Tentang Blog

Catatan ringan hasil mengumpulkan kembali ingatan tentang perjalanan yang telah dilalui. Bukan dimaksudkan untuk memberikan panduan perjalanan, hanya sebagai testimoni betapa mengagumkan negeri yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini.

author

Dua Rasa di Ujung Ramadhan

Leave a Comment

Masjid kami mulai berkurang jamaahnya. Sebagian sudah berangkat mudik. Menandai Ramadhan yang hampir selesai. Kali ini saya ingin jujur pada diri sendiri. Ada dua rasa yang saling berkejaran di dada. Syukur yang meluap, namun juga sesal yang diam-diam mengiris.

Saya bersyukur karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ada yang tahun lalu masih merencanakan Ramadhan berikutnya, tapi tahun ini tidak pernah benar-benar sampai. Dan saya masih ada di sini. 

Saya bersyukur karena Sang Pemilik Waktu masih mengizinkan sampai di titik ini. Di saat banyak nama hanya tinggal kenangan, saya masih bisa menjalani hari-hari di bulan Ramadhan. Masih bisa berdiri dalam shaf shalat berjamaah. Masih bisa tilawah ayat-ayat-Nya meski tidak selalu dengan hati yang utuh. Masih bisa bermunajat di malam yang sunyi, dan beriktikaf menggapai Lailatul Qadar.

Saya bersyukur karena tahun ini tidak hanya menjadi penonton, tapi menjadi bagian dari kemuliaan bulan ini.

Namun, di balik syukur itu ada sesal yang menyesak. Menyesal karena tidak menyambut semua kesempatan dengan kesungguhan. Menyesal karena tahu, seharusnya bisa melakukan lebih dari ini. Bisa lebih hadir. Bisa lebih sadar. Bisa lebih menghargai waktu yang diam-diam terus berjalan.

Saya menyesal karena seringkali melewatkan  waktu-waktu mustajab dengan kesadaran yang setengah hati. Ibadah terkadang menjelma rutinitas yang kering. Seolah-olah shalat dan puasa hanyalah gugur kewajiban tanpa benar-benar menghidupkan batin.

Saya bersyukur karena masih ada malam-malam yang saya sempatkan untuk taqarrub. Tapi menyesal karena ada banyak malam yang dilewatkan dengan alasan lelah dan kantuk. Atau menuruti bisikan ntar aja dengan keyakinan bahwa waktu masih panjang. Padahal detik-detik Ramadhan terus luruh seperti pasir di jam kaca.

Saya bersyukur karena Ramadhan selalu datang membawa kesempatan baru. Tapi menyesal karena sering datang sebagai orang yang sama dengan tahun sebelumnya. Dengan pola yang sama. Dengan kelalaian yang hampir serupa. Dengan kemalasan yang itu-itu saja.

Saya bersyukur karena masih diberi ruang untuk memperbaiki diri. Tapi menyesal karena seringkali menunda perbaikan itu, seolah-olah kesempatan akan selalu menunggu. Padahal tidak. Dan mungkin, di situlah letak pelajaran yang paling sunyi tapi paling jujur. Bahwa yang pergi bukan hanya Ramadhan, tapi umur yang tidak akan pernah kembali.

Dan kini, semakin memikirkannya, semakin merasa bahwa mungkin yang saya alami bukan kekurangan waktu, melainkan kekurangan kesadaran.

Di batas penghujung waktu ini, hanya bisa berharap bahwa apa pun yang sempat saya lakukan, meski sedikit dan tidak sempurna, tidak sepenuhnya sia-sia. Berharap bahwa di antara amal-amal yang terasa biasa, ada yang benar-benar diterima. 

Maka di penghujung Ramadhan ini, saya tidak ingin menjadi siapa-siapa selain seseorang yang sedang belajar jujur. Saya bersyukur dan saya menyesal.

Ya Allah, terimalah semua yang sempat saya lakukan. Meski tidak banyak, meski tidak sempurna. Dan jika Engkau masih berkenan, izinkan bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya. Bukan sekadar mengulang. Tapi datang sebagai diri yang lebih siap. Hati yang lebih sadar, dan tidak lagi menyia-nyiakan waktu seperti sebelumnya.

Depok, 29 Ramadhan 1447 H

Read More

Indonesia dalam Angka Perjalanan

Leave a Comment
Indonesia selalu terasa lebih luas dari peta yang saya lihat. Membentang dalam ribuan pulau, ragam bahasa dan budaya yang tidak pernah sepenuhnya bisa dirangkum dengan satu sudut pandang. Keindahannya sering datang bersama dengan kesulitan untuk menjangkaunya. Keragamannya kerap menuntut kerendahan hati untuk memahaminya. Dalam bentang sebesar itu setiap perjalanan terasa kecil. Namun setiap perjumpaan meninggalkan jejak yang pelan-pelan membentuk cara melihat Indonesia.

Jika perjalanan itu diringkas dalam angka, maka yang muncul bukanlah peta yang utuh melainkan potongan-potongan pengalaman. Hingga kini, saya telah mengunjungi 32 dari 38 provinsi di Indonesia. Angka ini memberi gambaran jangkauan, tetapi sekaligus menegaskan batas. Selalu ada wilayah yang belum tersentuh. Selalu ada Indonesia yang berada di luar pengalaman.

Pada level kabupaten dan kota, batas itu terasa lebih nyata. Dari 514 kabupaten/kota, baru 263 wilayah yang pernah saya kunjungi. Kurang lebih hanya setengah dari seluruh wilayah. Itupun beberapa di antaranya hanya sekadar melintas. Angka ini tidak bisa dibaca sebagai capaian, melainkan sebagai pengingat betapa luasnya negeri ini. Bahkan setelah ratusan perjalanan, pemahaman saya tentang Indonesia tetap bersifat parsial dan tidak pernah final.
Secara spasial, jejak perjalanan itu tidak tersebar merata. Hampir seluruh bagian Pulau Jawa pernah saya kunjungi meskipun dengan intensitas yang berbeda-beda. Akses yang relatif mudah dan jarak antar wilayah yang relatif rapat menjadikan Jawa sebagai pusat pengalaman. Barangkali juga karena di pulau inilah saya dilahirkan dan menetap hingga kini. Kedekatannya membentuk pemahaman yang lebih akrab, sekaligus menyimpan risiko melihat Indonesia terlalu sering dari sudut yang sama.

Di Pulau Sumatera, seluruh provinsi pernah saya pijak namun jejak perjalanan segera memperlihatkan batasannya. Kunjungan ke satu provinsi sering kali hanya berarti hadir di beberapa kabupaten/kota, sementara wilayah lain tetap berada di luar jangkauan. Ada provinsi yang saya datangi berulang kali, membentuk rasa akrab dan pemahaman yang lebih dalam. Sementara provinsi lain hanya tersentuh sekilas. 

Kalimantan dan Sulawesi menghadirkan pengalaman yang berbeda. Sebagian besar provinsinya telah saya kunjungi, namun cakupan kabupaten/kotanya masih terbatas. Jarak, waktu tempuh, dan keterbatasan konektivitas membuat setiap perjalanan ke wilayah ini terasa lebih menuntut. Dari sini saya menyadari bahwa Indonesia bukan ruang yang seragam, namun memiliki kondisi geografis yang secara nyata memengaruhi mobilitas dan interaksi.

Bali dan Nusa Tenggara memperlihatkan kontras yang kuat. Bali terasa sangat hadir dalam lintasan perjalanan, sementara Nusa Tenggara membuka pengalaman tentang wilayah kepulauan dengan dinamika yang lebih sunyi. Di kawasan ini, saya menemukan Indonesia yang bergerak di antara keindahan pariwisata, keterbatasan layanan dasar, dan ketahanan sosial yang tumbuh dari kebersamaan.

Lanjut ke timur, Maluku dan Papua menjadi wilayah dengan keterjangkauan paling terbatas. Bukan semata karena jarak dan kondisi geografis, tetapi karena akses yang sejak awal memang tidak pernah setara. Setiap kunjungan ke kawasan ini terasa lebih lambat dan lebih mahal. Seolah mengingatkan bahwa tidak semua bagian Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk didekati. Namun justru karena itu, Maluku dan Papua meninggalkan kesan yang paling dalam. Perjalanan ke wilayah ini bukan sekadar agenda kegiatan, melainkan perjumpaan dengan Indonesia yang kerap berada di pinggir cerita besar. Bagian Indonesia yang mengajarkan arti keindahan, keragaman, dan keterjangkauan dengan cara yang sunyi.

Angka-angka perjalanan ini tidak saya maknai sebagai ukuran sejauh mana telah menjelajahi nusantara, melainkan sebagai peta kesadaran atas keterbatasan diri. Setiap wilayah yang pernah didatangi membentuk cara pandang untuk memaknai Bhineka Tunggal Ika. Dan setiap wilayah yang belum dikunjungi menjadi pengingat bahwa Indonesia selalu lebih besar daripada pengalaman siapa pun.

Depok, 22 Desember 2025
Read More

Ingatan Perjalanan di Kota Jayapura: MASJID-MASJID DI UJUNG TIMUR INDONESIA

Leave a Comment

Bagi saya yang pertama kali berkunjung ke Kota Jayapura, pemandangan puluhan masjid berukuran besar menjadi sesuatu yang menakjubkan. Semula, saya membayangkan akan kesulitan menemukan masjid ketika berada di kota ujung timur Indonesia ini. Bayangan itu mungkin datang dari gambaran lama tentang Papua yang lebih dikenal dengan sejarah misi penginjil yang kuat. Namun, kenyataan yang ditemui justru menghadirkan kejutan yang berbeda.

Masjid yang megah dengan kubah dan menara yang gagah bahkan sudah bisa dijumpai sejak keluar dari Bandara Sentani di Kabupaten Jayapura menuju Kota Jayapura. Deretan masjid-masjid itu menjadi semakin rapat saat mendekati pusat-pusat permukiman kota. Di sepanjang jalan utama sejak dari Abepura, Entrop, Hamadi hingga tepi Teluk Youtefa dan pusat kota tak henti berucap masyaallah, saat mata berkali-kali disambut bangunan masjid yang megah berarsitektur modern dengan menara-menara yang menjulang. 

Saat meneruskan perjalanan ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, jumlah masjid yang dijumpai di jalur utama menuju perbatasan dengan PNG itu memang berkurang. Namun itu lebih karena keberadaan permukiman yang lebih jarang. Agak masuk dari jalur utama, menurut penuturan warga, mudah ditemukan beberapa masjid di permukiman transmigrasi di Koya Barat dan Koya Timur. Kenyataan itu menghadirkan kesadaran baru bahwa masjid-masjid di kota ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat shalat, tetapi juga simbol hadirnya komunitas muslim yang telah lama berakar di tanah Papua. 

Di antara puluhan masjid itu, ada beberapa yang cukup menarik perhatian. Masjid Raya Baiturrahim di Gurabesi menandai kehadiran Islam di jantung kota. Tidak jauh dari bangunan modern dan megah yang dapat menampung hingga 5000 jamaah itu, ada masjid Jami' yang konon merupakan masjid tertua di Kota Jayapura. Sekilas, tidak mudah mengidentifikasi bangunan tiga lantai yang menyatu dengan sekolah itu sebagai masjid. Tidak terlihat kubah ataupun menara, hanya tulisan Masjid Jami' berukuran besar dan papan nama Lembaga Pendidikan Ma'arif.

Tidak banyak masjid yang bisa saya kunjungi dalam perjalanan singkat ini. Hanya masjid Al-Hidayah di Entrop, masjid Taqwa di depan pasar Hamadi, dan masjid Al-Ikhlas di Yabansai tidak jauh dari lingkungan Universitas Cendrawasih.

Di Kota Jayapura, keberadaan masjid-masjid itu menjadi saksi sejarah pertemuan budaya. Banyak warga yang datang dari Maluku, Bugis, Makassar, Jawa, hingga Sumatera, menetap di kota ini sejak puluhan tahun lalu dan hidup berdampingan dengan Orang Asli Papua. Masjid-masjid itu kini menjadi bagian dari lanskap kota, seperti potret utuh dari keragaman Indonesia yang berpadu di tanah Papua.

Bagi saya pribadi, pemandangan puluhan masjid besar di Kota Jayapura bukan hanya menakjubkan, tetapi juga menenangkan. Pengalaman ini mengubah cara pandang saya tentang Kota Jayapura. 

Kota ini tidak hanya tentang keindahan laut biru Teluk Youtefa, pegunungan Cycloop yang hijau, atau pasar yang ramai dengan tangkapan hasil laut, pinang, kopi, dan hasil bumi lainnya. Kota Jayapura juga tentang suara adzan yang berpadu dengan lonceng gereja, tentang kubah masjid yang berdiri sejajar dengan tiang salib, tentang harmoni yang nyata di tengah masyarakat yang majemuk. Sebuah perjalanan yang menjadi pengingat bahwa di ujung timur negeri, identitas kebangsaan dan kebersamaan tetap terjaga. 

Inilah wajah Indonesia yang berbeda-beda tetapi tetap satu.

Kota Jayapura, 19-23 Agustus 2025
Read More

Hijrah Bukan Hanya Soal Pindah, Tapi Juga Tentang Menata Arah

Leave a Comment

Pagi ini langit seperti baru saja dibasuh. Bersih dan tenang. Tidak tampak mendung hitam yang sejak beberapa hari lalu mengepung. Menumpahkan hujan di musim kemarau.

Angin menyapu pelan di wajah saat kubuka pintu rumah. Udara terasa sejuk. Seakan turut menyambut datangnya sesuatu yang baru.

Sepi. Tak ada suara selain langkah kakiku menuju masjid. Beberapa kali aku ragu. Entah sudah berapa lama aku tak ke masjid waktu Subuh. Bahkan aku sendiri tidak tahu persis kenapa pagi ini tiba-tiba ingin berangkat.

Mungkin karena kalender di dinding kamarku. Angka berwarna merah itu seperti mengirim pesan kewaspadaan. 1 Muharram. Tahun baru hijriyah. Tahun baru yang membangkitkan harapan baru.

Aku berjalan pelan. Seolah mencoba mengingat jalan yang dulu pernah rutin kulalui. Dari rumah ke masjid yang sebenarnya tidak begitu jauh. 

Di masjid, deretan jamaah yang mengisi tiga shaf tampak khusyuk. Aku datang saat imam membaca Surah Al-‘Ashr. Ayat pendek yang sejak kecil sudah kuhafal artinya. Tapi kali ini seperti menembus langsung ke jantungku.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”

Kerugian. Kata itu menggema di kepala. “Yang hilang bisa dicari,” batinku. “Tapi waktu… dia tak pernah kembali.”

Selesai shalat subuh, aku duduk lama. Tidak langsung pulang. Ada sesak yang memenuhi dada. Sesuatu yang selama ini takut kuakui. Tapi pagi ini aku tak malu mengakuinya. Sepertinya aku telah kehilangan arah.

Aku sadar, selama ini terlalu sibuk mengejar yang tak pasti. Sibuk mempercepat langkah, tapi lupa memastikan arah. Sibuk membuktikan diri agar diakui, tapi lupa menata hati.

Pagi ini, di sudut masjid ini, aku merasa seperti orang yang lama tersesat dan baru saja menemukan papan petunjuk arah.

Saat melangkah pulang, matahari mulai tinggi sepenggalah. Sinar keemasannya menghangatkan. Jalan yang tadi terasa sepi dan dingin, kini seperti lebih bersahabat.

Langkah kaki juga terasa lebih ringan. Sepertinya kali ini ada yang berubah. Aku masih belum tahu semua jawaban hidupku. Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku ingat kembali ke mana harus melangkah.

Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momen spiritual untuk berhijrah. Dari lalai menuju sadar. Dari kesia-siaan menuju kebermanfaatan. Dari dunia semata menuju akhirat yang abadi. 

Bismillah. Hijrah bukan hanya soal pindah, tapi juga tentang menata arah. Bukan untuk status, bukan untuk pamer. Tapi untuk sebuah perjalanan pulang. Pulang ke kampung akhirat. Pelan-pelan, entah kapan bakal sampai. Tapi pasti sampai.

Depok, 1 Muharram 1447 H
Read More

Ramadhan, Mengapa Engkau Datang dan Pergi Tanpa Menyapa Aku?

Leave a Comment

Gema takbir mulai berkumandang, bersahutan dari masjid-masjid di seputaran rumah, menandakan berakhirnya bulan yang penuh berkah ini. Besok, hari raya Idul Fitri akan tiba. Inilah waktu berbuka puasa terakhir. Tapi aku malah ditemani kegelisahan yang menyusup ke dalam hati. 

Sambil menyelesaikan hidangan takjil, aku duduk menatap ponsel yang memperlihatkan kalender digital, dengan tatapan masygul. Esok pagi, harusnya menjadi hari kemenangan. Tapi di dalam hati, yang ada hanya sesak dan penyesalan.

Sejak awal Ramadhan, aku berjanji pada diri sendiri akan lebih mendekat kepada Allah. Sederet daftar amal untuk mengisi bulan Ramadhan telah rapi aku targetkan. Ingin menambah bacaan Al-Qur’an, ingin merutinkan shalat malam, ingin lebih banyak sedekah, ingin lebih sering memohon ampunan, ingin berdoa lebih khusyuk, dan ingin setiap waktu mengisi dengan amal ibadah mumpung bulan ini nilai pahala dilipatgandakan.

Namun, hari demi hari berlalu dengan begitu cepat. Aku santai saja ketika daftar amal itu hanya berakhir dengan keinginan tanpa tindakan. Aku selalu merasa masih punya waktu.

“Besok aku akan mulai,” kataku setiap malam.

Tapi besok selalu saja menjadi lusa, dan lusa bergeser menjadi pekan lalu. Hingga tanpa sadar, inilah buka puasa Ramadhan terakhir tahun ini.

Malam ini, aku hanya bisa menghela napas panjang, menunduk dengan tangan menggenggam erat tasbih yang tak banyak kugunakan selama sebulan ini. Kulirik Al-Qur’an di atas meja yang lebih banyak tergeletak daripada berada dipangkuan untuk kubaca.

Dulu, aku berpikir Ramadhan ini akan berbeda. Aku berjanji akan beribadah lebih sungguh-sungguh. Namun, aku justru lebih banyak menghabiskan banyak waktu dengan hal-hal yang tak perlu. 

Aku terlalu sibuk. Scroll media sosial hingga menjelang tidur, menonton serial film dan drama yang tak ada habis-habisnya, sesekali pergi berbuka di luar bareng teman biar bisa berswafoto dan mengunggahnya, menonton podcast yang lebih banyak bercanda tanpa makna, dan membaca cerita-cerita novel yang sebenarnya memiliki alur yang monoton, jauh dari keindahan dan kedalaman makna dibanding kisah-kisah dalam Al-Qur’an.

Malam ini, aku sadar. Semua itu telah berlalu, dan aku tak bisa mengulanginya. Dada ini terasa semakin sesak. Aku teringat almarhum ayah yang dulu selalu mengingatkan untuk memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

“Doa di bulan ini mustajab, Nak. Jangan sampai kamu menyesal karena menunda-nunda,” katanya suatu saat sambil makan sahur. Tapi aku hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengarkan.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Aku merasa begitu bodoh. Allah telah memberikan sebulan penuh kesempatan, tapi aku justru menyia-nyiakannya. Hingga waktu berbuka puasa Ramadhan terakhir ini, aku belum juga merasakan keindahan qiyamul lail dan kenikmatan membaca Al-Qur'an yang selama ini kuimpikan.

Ramadhan, mengapa engkau datang dan pergi tanpa menyapaku? Tapi rasa kecewa itu segera berganti dengan rasa sesal. Aku sadar, bukan Ramadhan yang tidak menyapa, tapi aku yang justru mengabaikannya.

Tanpa berpikir panjang, Aku bangkit dari tempat duduk, berwudhu hingga air yang membasuh wajah bercampur dengan air mata yang terus menetes. Sesaat setelah menenangkan hati, kulangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan Shalat Maghrib berjamaah. Malam ini, aku tak ingin menunda lagi.

Dengan suara lirih, aku mulai berdoa.

“Ya Allah, ampuni hamba yang telah menyia-nyiakan waktu-Mu. Hamba mohon, beri kekuatan untuk bersegera menunaikan amal-amal yang kemarin tertunda dan izinkan hamba kembali bertemu dengan Ramadhan-Mu di tahun depan. Jangan biarkan hamba mengulang kesalahan ini lagi.”

Doa penuh penyesalan itu akhirnya terucap. Tapi di dasar hati, aku tahu, tidak ada yang bisa menjamin apakah masih akan mendapatkan kesempatan kedua, disapa oleh Ramadhan tahun depan.

Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu Allaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.

Depok, 1 Syawal 1446 H

Read More

Saya Iri di Bulan Ramadhan Ini

Leave a Comment

Di masjid kami, Pak Catur bukan siapa-siapa. Maksudnya, dia hanya jamaah biasa. Meskipun cukup rajin shalat berjamaah, belum pernah sekalipun, atau setidaknya sangat jarang, dia menjadi imam shalat. Masjid kami memang memiliki imam tetap, namun ketika beliau sedang ada udzur, tentu salah satu dari kami harus menjadi imam pengganti. 

Memang, pernah sekali dua kali, ketika tidak banyak yang datang di masjid, Pak Catur terpaksa menjadi imam pengganti. Itu pun dia hanya bersedia untuk shalat sirr, shalat Zuhur atau 'Ashr. 

Sebenarnya wajar kalau Pak Catur jarang menjadi imam shalat. Dia saja sering terlambat tiba di masjid, mengikuti shalat berjamaah sebagai makmum masbuq

Tetapi bukan itu penyebab sebenarnya. Pak Catur memang selalu berusaha menghindar untuk menjadi imam shalat.

"Masih banyak yang lebih layak," katanya sambil mempersilahkan yang lain.

Di lain waktu, ketika diminta menjadi imam, dia menggelengkan kepala: "Saya orangnya pelupa." 

Atau, di kesempatan lain, senyum-senyum tanpa malu membuat pengakuan: "Dosa saya banyak."

Pokoknya, ada saja alasan Pak Catur untuk menolak menjadi imam. 

Pagi ini, setelah hampir semalaman begadang untuk i'tikaf, seusai shalat subuh berjamaah saya berbaring menunggu waktu syuruq tiba. Samar-samar saya dengar Pak Catur sedang membaca Al-Qur'an. Meskipun pelan, karena posisi yang cukup dekat, bacaannya terdengar cukup jelas. 

Sambil terkantuk-kantuk, saya dengarkan ayat Al-Qur'an yang sedang dibaca Pak Catur. Lumayan, bisa ikut dapat pahala meskipun hanya mendengarkan. Terlebih di bulan yang nilai pahalanya dilipatgandakan ini.

Bacaan Pak Catur cukup lancar. Namun, tajwid-nya masih banyak yang belum tepat. Masih sering terpeleset antara idzhar, idgham, iqlab, atau ikhfa'. Apalagi makhorijul huruf-nya, banyak yang berantakan. Belum bisa menempatkan keluarnya huruf dengan pas apakah di tenggorokan, di rongga mulut, di antara dua bibir, di lidah, atau di pangkal hidung. Jangan pula tanya yang lebih detail seperti qalqalah dan hams. Dia juga sulit konsisten mengucapkan huruf yang tebal atau yang tipis, dan seterusnya.

Bagi saya yang kemampuan tajwid juga masih pas-pasan, bacaan Pak Catur sudah lebih dari cukup untuk disimak. Beberapa ayat yang kebetulan hafal, terdengar cukup jelas dan mudah diikuti.

Setelah beberapa saat membaca Al-Qur'an, tiba-tiba suara Pak Catur tercekat. Bahkan samar-samar terdengar isak tangis yang sangat lirih. Barangkali hanya saya yang mendengar, karena posisi jamaah lain cukup jauh.

Saya tidak tahu, apakah dia terisak karena ayat Al-Qur'an yang sedang dibacanya, atau barangkali punya masalah berat yang sedang dihadapi. 

Tapi tetap saja bikin penasaran. Tanpa mengubah posisi tiduran agar tidak menggangunya, saya pertajam pendengaran. Beberapa kali Pak Catur terdiam menenangkan diri. Namun, ketika kembali hendak mulai membaca Al-Qur'an, lagi-lagi suaranya tertahan tergantikan oleh isakan.

Saya semakin penasaran. Masih bertahan dengan posisi berbaring, sehingga tidak tahu apakah ada air mata yang membasahi wajahnya atau tidak.

Beberapa saat Pak Catur masih diam menenangkan diri. Samar-samar, mulai terdengar suaranya. Meskipun lebih lirih, saya tahu beliau tidak sedang membaca Al-Qur'an. Dia membaca shalawat berkali-kali. Puluhan kali atau mungkin ratusan kali karena cukup lama dia bershalawat. 

Saat pelan-pelan, masih dengan suara tercekat, Pak Catur mulai kembali membaca Al-Qur'an, saya semakin penasaran ayat apa yang sedang dibacanya. Untunglah, Pak Catur beberapa kali mengulang bacaan yang saya duga membuat dia terisak. Setelah menyimak beberapa saat, barulah saya sadar.

Allahu Akbar. Allahumma sholli 'ala Muhammad.

Ternyata Pak Catur sedang membaca ayat yang sama dengan yang dibaca oleh sahabat Abu Bakar untuk menenangkan sahabat Umar bin Khatab. Saat itu, sahabat Umar yang terkenal punya karakter kuat, terguncang dengan wafatnya Rasulullah SAW. Bahkan menghunus pedangnya, mengancam orang-orang yang mengatakan Rasulullah SAW telah wafat. Hati sahabat Umar baru luluh setelah mendengar sahabat Abu Bakar membaca ayat Al-Qur'an, sebagaimana ayat yang tadi membuat Pak Catur terisak.

Begitu iri diri ini. Ketika saya hampir terbang ke alam mimpi, rupanya Pak Catur terlempar ke masa dimana dua sahabat utama, semoga Allah merahmati keduanya, mengalami kesedihan mendalam mengetahui kekasihnya telah dipanggil Allah. Kesedihan yang pasti juga dialami oleh seluruh kaum muslimin.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولࣱ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِی۟ن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰۤ أَعۡقَـٰبِكُمۡۚ وَمَن یَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَیۡهِ فَلَن یَضُرَّ ٱللَّهَ شَیۡـࣰٔاۗ وَسَیَجۡزِی ٱللَّهُ ٱلشَّـٰكِرِینَ

“Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran ayat 144)

Pak Catur, pagi ini saya iri. Begitu rindukah Pak Catur hingga menangis mengenang wafat Rasulullah SAW? Begitu besarkah cinta Pak Catur hingga tergoncang dengan ayat yang mengingatkan puncak kesedihan kaum muslimin saat wafat Rasulullah SAW? 

Pak Catur, jika kelak karena rindu dan cinta ini menjadi syafaat hingga Rasulullah SAW menuntunmu menuju surga, mohon gandeng tangan saya untuk bisa bersama-sama ikut berkumpul bersama Rasulullah SAW. 

Sungguh Pak Catur, saya iri. Sementara saya, puluhan bahkan mungkin ratusan kali membaca ayat itu, tanpa sekalipun pernah tersentuh dengan keagungannya.

Depok, 21 Ramadhan 1446 H
Read More

Pemutus Amal Parsial dan Temporal

Leave a Comment
Di sebuah grup medsos, seorang teman akhwat menyatakan bahwa laki-laki lebih beruntung. Bisa terus beribadah tanpa perlu jeda "libur bulanan". Tentu yang dimaksud bisa terus melakukan ibadah-ibadah yang tidak bisa dilakukan oleh seorang perempuan yang sedang haid. Setidaknya terhalang untuk menunaikan shalat, berpuasa, membaca Al-Qur'an (dengan memegang mushaf), thawaf, dan beberapa larangan lain. 

Seperti biasa, ramai tanggapannya. Ada yang serius, ada pula yang santai bahkan bercanda. Namanya juga medsos pertemanan.

Beberapa hari kemudian saya malah kepikiran betapa serius kegelisahan teman akhwat yang bertanya itu. Mengingatkan pada kegelisahan para sahabat miskin ketika mengadu kepada Rasulullah SAW. Mereka merasa ketinggalan amal dibanding dengan para sahabat kaya. Meskipun sama-sama bersemangat melakukan berbagai amal namun sahabat kaya bisa memborong pahala tambahan dengan amalan utama bersedekah dan membebaskan budak. 

Barangkali itu juga yang dirasakannya. Kegelisahan yang muncul karena semangat untuk fastabiqul khairat. Bukan karena iri. Apalagi bentuk protes akan takdirnya sebagai perempuan yang mengalami siklus menstruasi.  
Jika demikian, tidak ada salahnya untuk mencoba belajar dari solusi yang diberikan Rasulullah untuk para sahabat miskin tersebut. 

Pertama, fokus pada amal apa yang bisa dikerjakan. Para sahabat miskin itu memang tidak bisa mengerjakan amalan sedekah ataupun membebaskan budak. Akan tetapi Rasulullah memberikan amalan lain yang setara dan bisa dikerjakan tanpa modal dengan membaca tasbih, hamdalah, dan takbir masing-masing 33 kali setiap selesai shalat. Artinya, ketidakmampuan mengerjakan suatu amal bukan berarti tertutup peluang untuk melaksanakan amal lainnya yang sepadan.

Kedua, fokus pada keutamaan dan sabar menerima "kekurangan". Ketika untuk kedua kalinya para sahabat miskin itu mengadu karena amalan utama yang diajarkan Rasulullah akhirnya diketahui dan ditiru para sahabat kaya, Rasulullah mengingatkan bahwa masing-masing diberikan keutamaan dan Allah SWT memberikan karunia kepada siapa yang dikehendaki. Adakalanya apa yang tidak kita sukai justru itu ketetapan Allah yang akan memberikan hasil terbaik. Sebaliknya yang kita sukai bisa jadi malah berdampak tidak baik bagi kita. 

Saya malah kadang justru merasa iri karena sering menyaksikan muslimah yang begitu bersemangat ketika beribadah. Terlihat bersungguh-sungguh memanfaatkan waktunya untuk memperbanyak amal shalih. Barangkali hal itu dilandasi kesadaran bahwa kesempatan beramal itu bisa sewaktu-waktu terputus. Setiap bulan, para muslimah itu belajar dengan datangnya pemutus amal parsial dan temporer. Parsial karena hanya sebagian amal yang tidak bisa dikerjakan. Temporer karena hanya berlangsung beberapa hari saja. Proses berulang yang menjadikan mereka lebih sadar dan lebih siap menghadapi pemutus amal total dan permanen. Ketetapan Allah berupa ajal, yang tidak bisa ditunda ataupun dimajukan sedetik pun.

Kesadaran itulah barangkali yang menjadikan lebih optimal memanfaatkan waktu untuk beribadah. Misalnya, sering kita saksikan muslimah yang tidak melewatkan berdoa seusai adzan dikumandangkan. Betul bahwa saat itu perempuan haid tidak bisa menjalankan shalat. Akan tetapi bukankah kesempatan berdoa di waktu ijabah antara adzan dan Iqamah tidak tertutup bagi dirinya? 

Bahkan bagi seorang perempuan yang sedang haid tidak ada halangan untuk tetap bangun di sepertiga malam terakhir. Tentu saja bukan untuk melaksanakan shalat tahajud. Masih banyak amalan yang bisa dilakukan di saat Allah turun ke langit dunia. Para muslimah itu sangat yakin saat itu Allah akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa dan memberikan ampunan bagi yang beristighfar. Tidak ada alasan untuk tidak bangun di sepertiga malam terakhir meskipun sedang haid. Bangun, bebersih diri, dan menata hati untuk memperbanyak memohon ampunan di waktu sahur dan khusyuk mendoakan kebaikan, keselamatan, dan kesuksesan untuk anak-anaknya fiddunya wal akhirah.

Begitu beruntung bagi muslimah yang mengalami proses dan belajar dari siklus pemutus amal itu. Bisa jadi, kuantitas ibadah seorang muslimah lebih sedikit tetapi lebih berkualitas karena dibarengi dengan kesadaran akan datangnya waktu terputusnya amal. 

Sungguh beruntung bagi kita yang bisa mengambil pelajaran. Lebih siap menyambut kedatangan pemutus amal, meskipun tidak tahu kapan datangnya. Pasti datang!


Depok, 7 Syawal 1445H
Read More

Jalur Mudah Masuk Surga Cara Mbah Hamid

Leave a Comment
Gus Baha, dalam salah satu ceramah yang saya dengar dari sebuah video, bercerita tentang amalan yang diajarkan Mbah Hamid. Potongan video pendek itu memang tidak menjelaskan lebih lanjut tentang Mbah Hamid. Dugaan saya, Mbah Hamid yang dimaksud Gus Baha adalah KH. Abdul Hamid. Meskipun lahir di Lasem, Rembang, kiai kharismatik itu lebih dikenal sebagai Kiai Abdul Hamid Pasuruan karena mengasuh pesantren hingga meninggal dan dimakamkan di Kota Pasuruan, Jawa Timur.

Mbah Hamid, kata Gus Baha, sering meminta jamaah yang datang untuk menghafal Al-Qur'an. Padahal jamaah yang sowan mbah Hamid itu kebanyakan sudah masuk golongan usia tua. Sudah sepuh-sepuh

Apakah Mbah Hamid mengajarkan metode cepat untuk bisa hafal Al-Qur'an? Atau Mbah Hamid memiliki karomah membuat orang hafal Al-Qur'an seketika? Ternyata tidak. Mbah Hamid bahkan tidak menetapkan target waktu untuk menghafal Al-Qur'an.  

Hasilnya sudah bisa diduga. Ada jamaah Mbah Hamid yang baru mulai proses menghafal sudah meninggal dunia. Jamaah lain hanya hafal 1 juz saat ajal datang. Ada juga yang sanggup menyelesaikan hafalan sampai 4 juz, dan seterusnya. 

Secara logika, tentu Mbah Hamid menyadari jamaahnya bakal sulit menyelesaikan hafal Al-Qur'an 30 juz. Lantas, apa hikmah dari amalan yang diajarkan Mbah Hamid? Ternyata, dengan meminta menghafal Al-Qur'an yang butuh waktu, Mbah Hamid ingin agar jamaahnya mendapat kemudahan jalan masuk surga. Mbah Hamid, kata Gus Baha berpegang pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga".

Begitulah cerita Gus Baha. Mbah Hamid meyakini bahwa selama seseorang sedang dalam proses menghafal Al-Qur'an, maka orang tersebut sedang menempuh jalan mencari ilmu. Inilah jalur mudah masuk surga yang diajarkan oleh Mbah Hamid. 

Tentu saja banyak amal lain sebagai jalan untuk mencari ilmu. Bahkan banyak amalan lain yang bisa mengantar masuk surga. Namun, amalan menghafal Al-Qur'an yang diajarkan Mbah Hamid ini menarik karena berpotensi menjadi proses pembelajaran sepanjang hayat.

Meskipun saat ini banyak inovasi metode menghafal Al-Qur'an secara cepat, namun kemampuan setiap orang berbeda-beda. Kalaupun ternyata sudah bisa menyelesaikan hafal 30 juz, masih perlu terus menjaganya dengan murajaah. Perlu mengulang-ulang membaca dan menghafal agar hafalan tidak hilang karena sifat lupa yang dimiliki manusia. Dan itu berarti, proses mencari ilmu akan terus dilakukan selama hayat masih dikandung badan. 

Terlebih lagi, jika kita bersedia meluangkan lebih banyak perhatian untuk belajar Al-Qur'an. Banyak banget hal yang bisa menjadi jalan belajar Al-Qur'an selain dengan menghafalnya. Pertama, memperbaiki bacaan dengan menyempurnakan pengucapan huruf (makharijul huruf) dan kaidah tajwid lainnya yang biasa dikenal dengan istilah tahsin Al-Qur'an. Kedua, belajar bahasa Arab yang lebih difokuskan untuk membaca kitab berbahasa Arab agar ketika membaca Al-Qur'an lebih bisa mengerti artinya. Ketiga, mengikuti kajian tafsir Al-Qur'an agar lebih paham maknanya mengingat Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia. Tanpa paham maknanya, akan sulit untuk bisa mendapat petunjuk dari Al-Qur'an sebagai pedoman hidup manusia.

Semua proses belajar itu, baik menghafal, membaca secara benar, mengerti arti, dan memahami maknanya insyaallah akan menjadi proses pembelajaran agar lebih mencintai Al-Qur'an dan lebih bersemangat mengamalkannya.

Sebagaimana yang diajarkan Mbah Hamid, tidak ada kata terlambat untuk mulai menghafal Al-Qur'an. Saat ini, berapa pun usia kita, adalah saat yang tepat untuk mulai menghafal Al-Qur'an. Sambil terus menjaga niat agar dengan menghafal Al-Qur'an itu senantiasa berada di jalur para pencari ilmu. Agar ketika panggilan itu datang, Allah ridlo dan memberikan kemudahan jalan masuk surga.

Syukur-syukur bisa sampai hafal 30 juz. Mungkin juga, di sisa usia ini hanya hafal beberapa juz atau bahkan mungkin beberapa halaman. Tak mengapa. Nikmati saja prosesnya selama hayat masih dikandung badan. 

Maturnuwon Mbah Kiai Hamid. 
Maturnuwon Gus Baha.
Read More

Jika Lelah, Masih Ada Tiang Masjid Untuk Bersandar

Leave a Comment
Anda yang pernah shalat di Masjid Nabawi, sepertinya tidak ada yang pernah menghitung jumlah tiang yang ada. Selain perlu waktu lama karena jumlahnya ratusan, juga tidak ada keutamaan untuk menghitung tiang-tiang itu. Paling-paling menandai nomor tiang untuk memudahkan mengambil alas kaki yang disimpan pada saat shalat. 

Memang ada beberapa tiang Masjid Nabawi yang memiliki nilai sejarah. Semuanya terletak di area Raudhah. Selebihnya adalah tiang-tiang yang berfungsi untuk menopang bangunan perluasan yang saat ini luasnya sudah lebih dari 2.000 meter persegi. Belum lagi halamannya yang juga dipenuhi ratusan tiang penyangga payung raksasa yang dibuka dan ditutup secara otomatis untuk menjaga kenyamanan jamaah saat panas atau hujan.

Kebanyakan bangunan yang luas memang memerlukan tiang untuk menyeimbangkan beban bangunan di atasnya. Meskipun demikian, tentu perlu dihitung kebutuhannya agar lebih efisien sekaligus untuk tetap terjaga estetika bangunannya. Bukan berarti tiang yang berjumlah banyak pasti mengganggu keindahan pandangan mata lho. Contohnya Masjid Nabawi, yang memiliki ratusan tiang dengan ornamen khas. Justru ratusan tiangnya menjadi daya tarik. Jamaah biasanya menjadikan deretan tiang-tiang itu sebagai latar belakang berfoto. Mengenang tiang-tiang itu biasanya memang menumbuhkan kerinduan untuk bisa kembali menunaikan shalat di Masjid yang memiliki keutamaan 1.000 kali dibanding shalat di masjid-masjid lain. 

Di Indonesia sendiri, banyak juga masjid yang dibangun dengan tiang-tiang yang cukup banyak. Salah satunya, bagi Anda yang sedang di Kota Jambi dapat shalat di Masjid Agung Al Falah. Masjid yang terletak tidak jauh dari pantai Ancol yang menjadi salah satu ikon kota Jambi itu dikenal juga dengan sebutan masjid seribu tiang. Meskipun jumlah sesungguhnya jauh dari angka itu, tiang-tiang di dalamnya memang terlihat sangat banyak.

Beda lagi dengan Masjid Agung Demak yang memiliki empat tiang utama di bagian dalam masjid. Salah satunya dibangun Sunan Kalijaga dari serpihan-serpihan sisa kayu yang dalam bahasa Jawa disebut tatal. Konon, dengan itu Wali Songo mengingatkan umat Islam agar senantiasa berpegang pada 4 pilar sumber hukum Islam: Al-Qur'an, Hadits, Ijma, dan Qiyas.

Belakangan ada juga trend masjid tanpa tiang di bagian tengahnya. Menyediakan ruang shalat yang terasa lebih lega. Contohnya Masjid Al-Jabbar di Kota Bandung yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Berapa jumlah tiang penyangga juga jadi salah satu bahan bahasan saat beberapa tahun lalu Masjid Baitul Iman di komplek kami, Depok Maharaja RW 16 dibangun ulang agar lebih luas. Tanpa mengabaikan kebutuhan struktur, banyak jamaah yang menginginkan pengurangan jumlah tiang yang berdiri di dalam masjid dengan alasan dapat memutus shaf, memberikan kesan sempit, untuk efisiensi biaya, dan beberapa alasan lain terkait estetika. Saya tidak ingat persis berapa jumlah tiang yang akhirnya dipangkas dari desain rencana awal pembangunan. Tersisa enam buah tiang di ruang utama tempat shalat berjamaah. Sisanya beberapa tiang lain yang letaknya tersembunyi karena menyatu dengan dinding.

Belakangan setelah masjid terbangun kami menyadari bahwa keberadaan tiang memang bukan sekadar penopang struktur bangunan. Sekitar tiang menjadi tempat favorit beberapa jamaah saat mengikuti kajian pekanan. Duduk bersandar mengikuti kajian memang bikin tambah betah berlama-lama di masjid.

Bahkan ada juga jamaah yang memanfaatkan tiang tidak hanya ketika ada kajian. Hampir setiap kali selesai menunaikan shalat berjamaah, beranjak ke belakang untuk bersandar di salah satu tiang. Lebih lega dan tidak gerah untuk bisa berlama-lama berdzikir dan memperbanyak doa. Saking seringnya kebiasaan itu, sambil berseloroh kami menyebutnya sebagi tiang Al Barkah. Menyesuaikan dengan nama jamaah yang  menjadikan tiang itu sebagai langganan bersandar. 

Beberapa hari ini, tidak ada jamaah yang bersandar di tiang Al Barkah kecuali saat kajian saja. Pelanggan setianya memang sedang melakukan safar ke tanah suci untuk memulai rangkaian menunaikan ibadah haji. Barangkali saat ini beliau sedang bersandar di salah satu tiang Masjid Nabawi. Terbawa kebiasaan ketika shalat berjamaah di tanah air. Sambil mendoakan agar seluruh jamaah Masjid Baitul Iman bisa segera berangkat atau kembali menunaikan shalat di Masjid Nabawi, Masjidil Haraam, dan menunaikan ibadah umrah dan haji.

Semoga Allah memberikan kesehatan dan kemudahan bagi seluruh calon jamaah haji 1444 H untuk menunaikan seluruh rangkaian ibadah haji dan mendapatkan haji mabrur. 
Read More

Oleh-oleh Kepulangan Haji

Leave a Comment
Banyak orang yang mengalami perubahan sepulang dari menunaikan ibadah haji. Tentu saja maksudnya adalah perubahan ke arah yang lebih positif. Ada yang shalatnya makin khusyuk, tak jarang sampai meneteskan air mata ketika menjalankannya. Ada pula yang shalatnya makin rajin. Seakan semua shalat sunnah tidak ada yang ditinggalkan. Atau seakan pindahan dari rumah ke masjid saking banyaknya waktu yang dipakai untuk berkegiatan di dalamnya. Setidaknya membiasakan berdzikir menunggu hingga matahari terbit setelah selesai menunaikan shalat Subuh berjamaah di Masjid. Kemudian melaksanakan shalat dua rakaat setelah masuk waktu Dluha, kangen pahala ibadah Haji dan Umrah. 

Ada juga yang sedekahnya makin kenceng, gak pakai hitungan lagi jika harus membantu sesama. Tidak sedikit juga yang akhlaknya makin baik, yang semula gampang marah jadi lebih sabar dan santun. Sangat menjaga perkataan dan perbuatan dari menyakiti orang lain. 

Banyak lagi cerita luar biasa dari orang-orang yang selesai beribadah haji. Demikianlah memang yang seharusnya terjadi. Idealnya memang kebaikannya meningkat, baik kesalehan individu maupun sosial. Perubahan yang membawa kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. Perubahan-perubahan itu menjadi ladang pembuktian kemabruran ibadah haji. 

Sebenarnya agak malu kalau mau menceritakan salah satu perubahan yang saya alami. Bila banyak orang yang mengalamai perubahan pada hal-hal besar, saya malah yang ringan saja. Kebiasaan buang air kecil. Remeh banget kan? 

Saya memang pernah punya kebiasaan gampang buang air kecil. Tidak jarang sejam sekali. Bahkan kurang dari itu jika sedang cuaca dingin atau berada di ruangan ber-AC. Sebentar-sebentar perlu pergi ke toilet. Penyebab hadats kecil lainnya seperti buang angin dan buang air besar bisa dikatakan jarang terjadi. BAB paling-paling sehari sekali. 

Inilah yang menjadi salah satu beban pikiran ketika persiapan menjelang keberangkatan ibadah haji. Khawatir bakal jadi masalah ketika sudah berada di tanah suci. Sampai-sampai saya berbekal kantong khusus yang dapat mengubah air kencing jadi bentuk gel. Jaga-jaga jika kebelet dan kesulitan mengakses toilet. Alternatif kepraktisan di kala darurat. 

Bayangkan saja repotnya! Ketika sedang enak-enaknya berdoa di depan Ka'bah saat menunggu shalat tiba harus keluar mencari toilet. Bakalan susah untuk kembali ke tempat semula. Belum lagi cerita yang pernah saya dengar jika antrean ke toilet biasanya lama. Wah, bisa-bisa sudah tidak bisa menahan ketika masih di antrean. Repot banget kan? 

Kekhawatiran itu menjadi salah satu doa ketika saya memohon kemudahan dalam menjalankan ibadah haji. Mungkin terasa janggal. Doa koq pada hal yang seremeh itu. Tapi bagaimana lagi. Saya memang khawatir tidak bisa optimal menunaikan rukun Islam kelima karena kebiasaan sering buang air kecil itu. Khawatir kesulitan menemukan toilet dan menunggu antrean yang terbayang panjang.

Alhamdulillah, ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Ketika di Madinah tidak banyak masalah. Selain karena banyak tersedia toilet di sekitar Masjid Nabawi, letak hotel yang menjadi pemondokan pun relatif dekat. Kalau terpaksa bisa langsung balik ke pemondokan. 

Demikian juga setelah dimobilisasi ke Kota Makkah. Fasilitas toilet di Masjidil Haraam sangat memadai. Salah satu toilet langganan saya adalah yang berada di dekat Marwa. Kebetulan sangat luas dengan banyak bilik toilet sehingga hampir bisa dikatakan tidak perlu mengantre. Bila sedang padat-padatnya, antrean satu dua orang bisa dimaklumi lah. Masih cukup nyaman. 

Biasanya, saya sempatkan menuntaskan hajat ke toilet dan berwudlu kembali sebelum masuk ke Masjidil Haraam. Maklum, saya kebagian pemondokan yang relatif jauh, di wilayah Aziziah Janubiah. Bisa butuh setengah jam perjalanan untuk sampai di Masjidil Haram. 

Pilihan toilet di dekat pintu keluar dari Marwa itu menjadi langganan karena letaknya sejalan dengan arah kedatangan bis. Begitulah kami datang ke Masjidil Haraam. Naik bis Shalawat dari pemondokan ke Terminal Jamarat, lanjut dengan bis yang disediakan Pemerintah Arab Saudi menyusuri terowongan sampai di Terminal Bab Ali. Lokasi terminal ini berada di tengah, antara Terminal Syeib Amir dan Terminal Ajyad. Jika mampir dulu ke toilet itu akan ketemu dengan arus jamaah yang turun di Terminal Syeib Amir. 

Ada juga toilet lain yang juga favorit saya. Letaknya ke arah Zamzam tower jika keluar dari pintu Abdul Aziz. Kalau gak salah ingat toilet nomer 6. Sangat luas dengan bilik toilet yang sangat banyak. Malah ada kelebihannya dibanding yang di dekat Marwa. Terlihat masih baru dengan lantai keramik yang lebih bersih. Toilet di dekat pintu Marwa memang terlihat lebih kusam karena usia. Hanya saja toilet nomor 6 yang lebih bersih itu bukan di jalur kedatangan dan kepulangan dari terminal Bab Ali. Cukup jauh dari pintu masuk terdekat ke Masjidil Haraam dari arah kedatangan bis yang saya tumpangi. Lebih dekat dari arah kedatangan jamaah yang lewat terminal Ajyad. 

Sebenarnya masih banyak toilet lain di sekitarnya. Tapi kebanyakan memiliki bilik toilet yang gak begitu banyak. Jika sedang padat, antrean bisa lebih dari 5 orang. Belum lagi kalau ada yang permisi menyela antrean dengan dalih kebelet. Bikin makin lama menunggu giliran. Ada juga toilet-toilet di kawasan bangunan perluasan King Abdullah. Sepertinya juga luas-luas. Sayangnya, saat itu masih belum dibuka untuk digunakan. Masih dalam tahap penyelesaian akhir pembangunan. 

Maaf, malah kelamaan bahas toilet di seputaran Masjidil Haraam. Kembali ke kekhawatiran saya. Ternyata selain keberadaan fasilitas toilet yang memadai, tanpa saya sadari frekuensi buang air kecil selama di tanah suci juga menurun. Padahal saya termasuk rajin minum air sesuai anjuran tim kesehatan untuk menghindari risiko dehidrasi. Anehnya bisa tidak ke toilet berjam-jam.  Kantong kencing yang saya bawa sama sekali tidak perlu digunakan. 

Waktu itu saya pikir karena cuaca yang cukup panas. Barangkali banyak terjadi penguapan cairan tubuh. Jika sedang di Masjidil Haraam saya memang lebih suka duduk-duduk di area Tawaf (Mataf) yang punya akses langsung ke udara terbuka. Terasa lebih hangat. Berbeda jika berada di area Sa'i (Masa'a) yang saya rasakan memang  terlalu dingin. Bukan hanya udaranya tapi bahkan lantai untuk duduk juga terasa dingin meskipun sudah beralas sajadah. Pilihan untuk lebih sering berada di Mataf barangkali juga yang membuat frekuensi ke toilet lebih jarang. 

Saat itu menyambung waktu sebelum Maghrib hingga Isya' tanpa dijeda ke toilet menjadi hal yang biasa. Demikian juga ketika pagi. Sering juga datang menjelang Subuh sebelum adzan awal dan terus berada di Mataf hingga lewat waktu syuruk. Sekitar 4 jam bahkan bisa lebih. Meskipun sesekali minum air Zamzam yang memang banyak tersedia, tidak ada rasa kebelet. Heran juga bisa tahan tidak ke toilet selama itu. Tidak direpotkan dengan urusan buang hajat dan berwudlu lagi. Bisa berlama-lama berada di masjid, berburu tempat strategis untuk memandang Ka'bah. 

Lebih tidak terduga lagi, frekuensi buang air kecil yang berkurang itu juga terbawa ketika sudah kembali ke tanah air. Tidak seperti sebelumnya, bisa lebih lama tidak perlu ke toilet. Alhamdulillah ada untungnya. Kebiasaan untuk menjaga wudlu seperti di tanah suci juga bisa diteruskan. 

Sebelumnya saya memang jarang berwudlu ketika habis dari toilet. Merasa repot jika berwudlu lagi ketika harus bolak-balik ke toilet. Belum lagi segudang hal yang bisa dipakai jadi alasan. Risih jika anggota badan sering basah. Malas copot sepatu. Atau alasan lain yang bisa saja dicari-cari. 

Nah, setelah frekuensi ke toilet makin jarang mulai ada perubahan. Lebih rajin berwudlu setelah menyelesaikan hajat. Terlebih ketika di masa pandemi dan lebih banyak WfH. Lebih mudah lagi. Begitu dari toilet langsung berwudlu lagi. Gak ada alasan yang merepotkan ketika dilakukan di rumah sendiri. 

Bisa dikatakan saat ini lebih banyak waktu dalam keadaan berwudlu dibanding dalam kondisi hadats. Meskipun belum bisa menjaga wudlu sepanjang waktu, lumayanlah ada peningkatan. Hikmah dari perubahan remeh. Frekuensi buang air kecil menurun, wudlu bisa lebih terjaga. 

Semoga bisa terus menjaganya di sisa usia ini. Bukankah amalan ringan ketika dikerjakan secara konsisten akan mendatangkan kecintaan Allah SWT? 

Read More

ARAFAH: KESADARAN ATAS KETIDAKBERDAYAAN MAKHLUK DI HADAPAN SANG KHALIK

Leave a Comment


... Kami melaksanakan prosesi Arafah dengan khusyuk di tenda Maktab 39. Meskipun dilengkapi dengan kipas angin yang disertai semprotan air, panas udara dari luar yang menembus atap tenda membuat keringat bercucuran. Akan tetapi ternyata hari ini bukan hanya keringat yang menetes. Inilah momentum dimana air mata banyak tertumpah.

Dimulai setelah memasuki waktu dluhur, ustadz Ali Fikri, pembimbing utama KBIH UQ mulai menyampaikan khotbah Arafah. Khotbah yang tidak terlalu panjang. Ajakan bersyukur telah berada di Arafah sebagaimana Rasulullah SAW, para sahabat, dan shalafus shalih juga pernah berada di sini sebagai ketaatan atas perintah Allah SWT. Ajakan mensyukuri kesempatan berhaji yang bisa jadi merupakan perjalanan sekali seumur hidup.

Khotbah yang disampaikan oleh Ustadz Ali datar-datar saja. Tanpa intonasi yang meledak-ledak. Akan tetapi, di sini, ketika wukuf di Padang Arafah ini, begitu mudah harapan dan ketakutan berpadu melelehkan air mata. Doa yang dipanjatkan ustadz Ali di akhir khotbah membuat air mata semakin menderai. Lantunan doa kadang tertutup oleh suara isak tangis jamaah.

Selesai khotbah, kami melaksanakan shalat jama' qashar Dluhur dan Ashr dengan dua iqamat. Iqomat pertama untuk shalat Dluhur, dan iqamat kedua sebelum shalat Ashr. Begitulah tata cara melaksanakan shalat Dluhur dan shalat Ashr ketika wukuf di padang Arafah.

Isak tangis kembali memenuhi tenda ketika ustadz Ali Fikri memimpin muhasabah setelah menyelesaikan shalat jama' Dluhur dan Ashr. Ajakan untuk mawas diri atas segala kekurangan, kesalahan, dan dosa yang melekat pada diri sendiri, pasangan hidup, orang tua, maupun anak-anak menjadikan diri ini semakin lemah dihadapan-Nya. Sepertinya ustadz Ali sengaja menyiapkan kami agar ketika berdoa di luar tenda sore nanti benar-benar dalam kesadaran akan kelemahan seorang hamba yang mengadu pada Sang Khalik yang Maha Kuasa. Kesadaran akan kehinaan seorang hamba dihadapan Allah yang Maha Mulia. Kesadaran betapa banyak dosa diri ini dihadapan Allah yang maha Pengampun.

Puncak pelaksanaan Arafah adalah ketika matahari sudah tergelincir ke ufuk. Kami keluar dari tenda untuk berdoa dengan mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat. Inilah saat yang mustajab. Jika sebelumnya dari mulai khotbah, shalat berjamaah, hingga muhasabah dibimbing oleh Ustadz Ali, kini kami lakukan secara pribadi.

Inilah saatnya masing-masing diri ini menghadap kepada yang Maha Kuasa. Memohon ampunan-Nya. Menumpahkan seluruh hajat. Kami tak malu berdoa sambil terisak. Bahkan kadang tak kuasa membendung suara tangisan. Kami tak peduli dengan keberadaan jamaah lain. Di tengah keramaian Arafah, seakan hanya ada diri ini dan Allah SWT.

Ya Allah, bukankah tiada hari yang Engkau memberikan ampunan yang melebihi hari ini? Tiada hari yang Engkau memberikan kebebasan dari neraka yang melebihi Arafah? Maka janganlah Engkau biarkan hamba meninggalkan Arafah dengan masih berlumuran dosa. Ampunilah dosa hamba, dosa kedua orang tua hamba, dosa istri hamba, dosa anak-anak hamba, dosa saudara-saudara hamba, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, dosa kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului menghadap kepada-Mu.

Laa ilaaha ilallah wahdahu laa syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai in qadiir.

Allahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu a’uudzu bika min syarri ma shana’tu abuu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abuu-u bi dzanbii faghfir lii fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.

Memoar Arafah 1439 H, dikutip dari buku UNFORGETTABLE HAJJ: Pengalaman Ringan Dilupakan Jangan

http://bit.ly/order_UNFORGETTABLEHAJJ

Read More

Sayyidul Istighfar

Leave a Comment
SAYYIDUL ISTIGHFAR. Begitulah lafadz istighfar yang dahsyat ini biasa disebut. Betapa tidak. Bagi yang membacanya pada waktu petang dan meninggal pada malam harinya maka dinyatakan berhak masuk surga. Demikian juga bagi yang membacanya di waktu pagi dan meninggal di hari itu maka akan menjadi penghuni surga. Begitulah jaminan yang diberikan Rasulullah SAW. Sayangkan kalau dilewatkan begitu saja? 

Alhamdulillah, saya mengetahui dan mengamalkan sayyidul istighfar ini sudah sejak puluhan tahun yang lalu. Bapak yang mengenalkannya. Memang tidak secara khusus mengajari atau meminta saya menghapal. 

Seingat saya, Bapak pertama kali membacakan hadits tentang sayyidul istighfar ini saat ceramah tarawih Ramadhan. Entah tahun berapa saya sudah agak lupa. Barangkali ketika saya usia SMP atau SMA. 

Setelah itu lafadz istighfar ini dijadikan wirid ba'da Shalat Maghrib dan Shalat Subuh di masjid. Masing-masing dibaca tiga kali. Pada awalnya kami mengulang penggalan lafadz yang dibaca Bapak. Setelah beberapa lama, tiba-tiba satu persatu kami hapal tanpa dituntun lagi. Sudah hapal di luar kepala. Metode menghapal yang sangat sederhana. Didengar berulang-ulang dan dibaca berulang-ulang. 

Begitulah kami, jamaah Masjid Al-Falah Dagen hapal dan rutin melafadzkan penghulunya istighfar ini. Orang tua, pemuda, maupun anak-anak semua hapal. Melafadzkan bersama-sama sebagai wirid setelah Shalat Maghrib dan Subuh. Hingga saat ini setelah puluhan tahun sejak kami mengenalnya. 

Sampai saat ini sebisa mungkin saya masih berkomitmen melanggengkan wirid ini. Insya Allah berusaha merutinkan setiap petang dan setiap pagi. Meskipun kadang lupa, terlewat tidak membacanya. 

Tidak ada yang tahu kapan Allah SWT memanggil kembali. Sudah seharusnya berjaga-jaga. Salah satunya dengan melanggengkan membaca sayyidul Istighfar. Semoga panggilan itu tidak datang ketika sedang lupa mengamalkan istighfar yang luar biasa ini. Tentu berharap kelak dapat menjadi penghuni surga sebagaimana jaminan yang diberikan Rasulullah SAW. 

Sebagaimana namanya, kandungan maknanya memang luar biasa. Bikin nggrantes. Menyadari ketidakberdayaan seorang hamba dihadapan Allah yang Maha Kuasa, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun. 

Ada juga alasan lain yang bersifat pribadi. Menjaga mengamalkannya secara rutin untuk melanjutkan bakti kepada Bapak setelah beliau wafat. Bapak yang pertama kali mengajarkan bacaan sayyidul istighfar dan kedalaman maknanya. Semoga komitmen untuk rutin melafadzkan sayyidul istighfar ini akan terus mengalirkan pahala. Sebagai ilmu yang bermanfaat yang telah diajarkan Bapak. Salah satu amalan yang tidak akan terputus pahalanya, selain shadaqah jariah dan doa anak yang shaleh.

Semoga Allah SWT melapangkan kubur Bapak, meneranginya, dan menjadikannya bagian dari taman surga.    

للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau, yang telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu. Dan aku diatas ikatan janji-Mu, dan aku berjanji kepada-Mu dengan segenap kemampuanku. Aku berlindung kepadamu dari segala kejelekan yang telah aku perbuat. Aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku. Dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau (HR. Bukhari).
Read More

Ada Apa dengan Arbain?

Leave a Comment
Seringkali ketika berkenalan, orang langsung menduga jika saya anak keempat. Darimana lagi kalau bukan dari nama Arba'in. Orang tua kami memang menandai anak-anaknya dengan angka urut. 

Kakak sulung, mas Jat pakai nama Wahid. Almarhumah mbak Datik sebagai anak kedua ditandai dengan nama Dwi. Mas Han dengan nama Tri karena anak ketiga. Hanya Anas yang tidak pakai nama angka urut. Sepertinya memang sudah direncanakan sebagai anak bungsu. 

Tidak jarang juga orang berseloroh kalau saya anak ke-40. Tidak begitu salah sih. Arba'in dalam bahasa Arab memang lebih pas diartikan 40. Kalau 4 itu Arba'a. Hanya terasa janggal saja kalau di jaman sekarang ada yang memiliki anak sampai 40. Kalau menurut bapak, nama Arba'in (biasa saya tulis juga dengan Arbain) memang dipakai sebagai penanda saya anak ke-4. Alasannya biar lebih mudah diucapkan dan luwih pantes saja

Saya malah punya pengalaman unik ketika bekerja di sebuah NGO. Country Director yang asli orang Perancis memanggil saya dengan Mr. Forty. Sekadar untuk menertawakan kemampuan bahasa Arab saya. 

Gara-garanya saya gelagepan ketika diajak ngobrol pakai bahasa Arab. Katanya, saya yang hanya paham masmuk dan kaifa haluk gak pantas pakai nama bahasa Arab. Padahal dia yang bule saja lancar berbahasa Arab. Selancar bahasa Perancis, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman yang dikuasai. Maklum dia sering ditugaskan di negara-negara Timur Tengah. 

Tinggi juga selera humornya. Saya hanya bisa nyengir ketika staf-staf lain ikutan memanggil dengan Mr. Forty

Saya sih tidak terlalu pusing apakah Arbain berarti 4 atau 40. Ngikut yang memberikan nama saja. Belakangan malah menduga barangkali orang tua memang sengaja menamakan Arbain selain sebagai penanda anak ke-4 juga sebagai pesan agar saya menaruh perhatian pada usia 40. 

Bukankah ada ungkapan life begins at forty? Pada usia 40 seharusnya seseorang sudah mencapai jenjang usia kematangan emosional. Sudah pada usia dewasa yang stabil. 

Bahkan di Al-Qur'an juga diingatkan pentingnya usia 40. Simak saja Surat Al-Ahqaf (46) ayat 15. Ayat ini memberikan indikator terukur ketika seseorang mencapai usia 40. 

Ada 5 karakter positif yang seharusnya sudah dicapai ketika memasuki usia 40 dan harus terus ditingkatkan setelahnya. Pertama, pandai bersyukur atas nikmat yang telah diterima dan diterima kedua orang tua. Kedua, fokus pada amal shaleh untuk mendapatkan ridla Allah. Ketiga, menaruh perhatian serius pada kebaikan anak keturunan. Keempat, mudah menyadari kesalahan dan segera bertaubat. Kelima, menjaga nikmat sebagai muslim dengan berserah diri hanya kepada Allah SWT. 

Saya sendiri, harus mengakui di usia yang sudah melewati kepala 5 masih belum memenuhi indikator kinerja yang seharusnya dicapai pada usia 40 itu. Masih jauh banget. Semoga saja tidak mengecewakan harapan orang tua dan masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan. 

Anda yang tidak punya nama Arbain, tidak ada salahnya juga punya perhatian pada usia 40. Malah sudah seharusnya. Sepertinya hanya usia 40 yang disebut secara khusus dalam Al-Qur'an. Tidak perlu menunggu dipanggil Arbain untuk punya perhatian capaian kinerja pada usia 40.

Jika saat ini masih dibawah 40, jadikan karakter positif itu sebagai target yang harus dicapai. Jika sudah lewat 40, jadikan untuk evaluasi seberapa senjang dari capaian ideal itu. Tak perlu berputus asa. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri mumpung hayat masih dikandung badan. Sampai nanti Allah SWT mencukupkan usia pada batas waktu yang telah ditetapkan. 

Semoga kita semua husnul khatimah. 


وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim" (QS 46:15).
Read More

(Tidak ada Kata) TERLAMBAT BELAJAR AL-QUR'AN

Leave a Comment
Seringkali ketika melihat anak-anak kecil yang sudah lancar membaca Al-Qur'an, saya teringat dengan cerita kakek, mbah Sahlan Syamsulhadi. Kami lebih sering memanggilnya dengan simbah kakung atau supaya lebih ringkas malah cukup mbah kung. Kakung dalam bahasa Jawa berarti laki-laki. Sama dengan lanang, tetapi digunakan untuk menghormati orang yang lebih sepuh

Kembali ke cerita mbah kung. Kejadiannya pada suatu malam Jum'at. Eit... jangan berprasangka dulu! Ini bukan cerita horor koq

Seperti biasanya, setiap malam Jum'at mbah kung menghadiri jamaah Yasinan. Begitulah biasanya dinamakan, diambil dari kebiasaan membaca surat Yasin pada setiap kegiatannya. Meskipun sebenarnya dilanjut dengan membaca awal surat Al-Baqarah, ayat Kursi, akhir surat Al-Baqarah, dan beberapa ayat lain termasuk trio surat Qul. Tetap saja penamaan yang sering digunakan adalah pengajian Yasinan. 

Nah, ceritanya terkait dengan kemampuan anak-anak kecil jaman now yang hampir semua sudah lancar membaca Al-Qur'an. Tidak seperti dulu. Gak semua orang, bahkan yang sudah dewasa bisa membaca Al-Qur'an. Tetapi, untuk urusan kegiatan keagamaan gak kalah meriah. Salah satunya ya kebiasaan bersama-sama membaca Al-Qur'an di malam Jum'at tadi. 

Meskipun dilakukan berjamaah, sesungguhnya setiap orang membaca sendiri-sendiri. Hanya saja dilakukan dengan jahr. Seberapa kencang suara untuk membacanya, menurut selera masing-masing. Ada yang pelan mirip bisikan, ada pula yang kencang setengah berteriak. Demikian pula tempo membacanya. Ada yang secepat kereta ekspres saking sudah hapal di luar kepala, ada pula yang lambat sambil menghayati atau terbata-bata karena memang belum lancar membaca. 

Kembali lagi ke cerita mbah kung. Tokoh yang diceritakan mbah Kung kebetulan belum bisa membaca Al-Qur'an. Untungnya, di buku Yasin seringkali dilengkapi dengan transliterasi huruf latin sehingga memungkinkan melafadzkan bagi yang belum bisa membacanya.

Begitulah cara beliau membacanya. Mengeja dari transliterasi huruf latin dengan suara yang lumayan kencang. Bisa jadi banyak juga jamaah lain yang menggunakan cara yang sama. 

Lancar-lancar saja. Meskipun bagi yang paham tajwid dan makhrajul huruf ada beberapa pengucapan yang terdengar kurang pas ditelinga. Sampai kemudian, ketika membaca awal surat Al-Baqarah, di ayat 3 yang dimulai dengan lafadz ALLADZIINA beliau ucapkan dengan ALLAD-ZIINA. Sepertinya beliau tidak sepenuhnya memahami transliterasi yang digunakan di kitab Yasin yang dimiliki.

Pengucapan yang cukup keras dengan logat Jawa yang medok tak urung membuat mbah kung yang duduk disebelahnya tersenyum. Beberapa jamaah bahkan tertawa tertahan sambil meneruskan bacaan. 

Sepintas dari cerita mbah kung, bacaan beliau memang lebih terdengar sebagai "alat zina". Membuat kami yang mendengar ceritanya jadi ikut tersenyum. Gak kebayang kalau itu terjadi saat ini. Sepertinya bakal viral. 

Alih-alih memviralkan, mbah Kung justru menunggu saat berdua untuk memberikan koreksi. Untuk menjaga martabat beliau yang memang pejabat setempat. 

"Alhamdulillah, orangnya mau dinasehati dan mau belajar. Sekarang sudah lancar baca Al-Qur'an". Begitulah mbah kung menutup ceritanya. 

Tidak mudah memang orang jaman dulu belajar membaca Al-Qur'an. Lebih butuh usaha dan waktu. Berbeda dengan generasi sekarang yang hampir semuanya dapat membaca Al-Qur'an sejak kecil. Belajarnya pun dalam waktu singkat berkat inovasi metodologi pembelajaran. Inovasi cara mudah dan cepat membaca Al-Qur'an. Yang paling fenomenal tentu saja metode Iqro' yang dipakai di banyak Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA). Hasilnya, hampir semua sudah lancar membaca Al-Qur'an sebelum lulus SD. 

Kini, perkembangan inovasi pembelajaran itu bukan saja bagaimana cara membacanya. Ada juga inovasi menghapal Al-Qur'an. Maka bermunculan beberapa istilah, misalnya "Menghapal Al-Qur'an Semudah Tersenyum", "Hapal Al-Qur'an dalam 8 jam", dan sebagainya. Intinya, semua menawarkan metologi yang memudahkan mampu menghapal Al-Qur'an dalam waktu yang lebih cepat. 

Bahkan, alhamdulillah belakangan juga berkembang inovasi metode cepat memahami Al-Qur'an. Metode bagaimana cara memahami bahasa Arab secara mudah dan cepat sehingga membantu untuk mengartikan kata dan memahami makna ayat Al-Qur'an. Ada yang memperkenalkan istilah "Sekejap Faham Al-Qur'an", "60 Hari Bisa Menerjemahkan Al-Qur'an", dan lain sebagainya. 

Lebih bersyukur lagi, inovasi-inovasi pembelajaran itu bukan hanya ditujukan untuk anak-anak. Memungkinkan juga dipelajari oleh orang yang lebih tua. Hasilnya bisa jadi memang tidak dapat mencapai 100%. Barangkali karena kesibukan atau faktor usia yang menyebabkan penurunan daya serap dan daya ingat. 

Akan tetapi, seperti yang dipesankan mbah kung lewat ceritanya, tidak ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur'an. Berapapun usia kita, apapun status sosial kita tidak perlu menjadi penghalang untuk terus belajar Al-Qur'an. 

*(Tidak ada Kata) TERLAMBAT BELAJAR AL-QUR'AN*

Seringkali ketika melihat anak-anak kecil yang sudah lancar membaca Al-Qur'an, saya teringat dengan cerita kakek saya, mbah Sahlan Syamsulhadi. Kami lebih sering memanggilnya dengan simbah kakung atau supaya lebih ringkas malah cukup mbah kung. _Kakung_ dalam bahasa Jawa berarti laki-laki. Sama dengan _lanang_, tetapi digunakan untuk menghormati orang yang lebih sepuh. 

Kembali ke cerita mbah kung. Kejadiannya pada suatu malam Jum'at. Eit... jangan berprasangka dulu! Ini bukan cerita horor koq. 

Seperti biasanya, setiap malam Jum'at mbah kung menghadiri jamaah Yasinan. Begitulah biasanya dinamakan, diambil dari kebiasaan membaca surat Yasin pada setiap kegiatannya. Meskipun sebenarnya dilanjut dengan membaca awal surat Al-Baqarah, ayat Kursi, akhir surat Al-Baqarah, dan beberapa ayat lain termasuk trio surat Qul. Tetap saja penamaan yang sering digunakan adalah pengajian Yasinan. 

Nah, ceritanya terkait dengan kemampuan anak-anak kecil jaman _now_ yang hampir semua sudah lancar membaca Al-Qur'an. Tidak seperti dulu. _Gak_ semua orang, bahkan yang sudah dewasa bisa membaca Al-Qur'an. Tetapi, untuk urusan kegiatan keagamaan gak kalah meriah. Salah satunya ya kebiasaan bersama-sama membaca Al-Qur'an di malam Jum'at tadi. 

Meskipun dilakukan berjamaah, sesungguhnya setiap orang membaca sendiri-sendiri. Hanya saja dilakukan dengan _jahr_. Seberapa kencang suara untuk membacanya, menurut selera masing-masing. Ada yang pelan mirip bisikan, ada pula yang kencang setengah berteriak. Demikian pula tempo membacanya. Ada yang secepat kereta ekspres saking sudah hapal di luar kepala, ada pula yang lambat sambil menghayati atau terbata-bata karena memang belum lancar membaca. 

Kembali lagi ke cerita mbah kung. Tokoh yang diceritakan mbah Kung kebetulan belum bisa membaca Al-Qur'an. Untungnya, di buku Yasin seringkali dilengkapi dengan transliterasi huruf latin sehingga memungkinkan melafadzkan bagi yang belum bisa membacanya.

Begitulah cara beliau membacanya. Mengeja dari transliterasi huruf latin dengan suara yang lumayan kencang. Bisa jadi banyak juga jamaah lain yang menggunakan cara yang sama. 

Lancar-lancar saja. Meskipun bagi yang paham _tajwid_ dan _makhrajul huruf_ ada beberapa pengucapan yang terdengar kurang pas ditelinga. Sampai kemudian, ketika membaca awal surat Al-Baqarah, di ayat 3 yang dimulai dengan lafadz ALLADZIINA beliau ucapkan dengan ALLAD-ZIINA. Sepertinya beliau tidak sepenuhnya memahami transliterasi yang digunakan di kitab Yasin yang dimiliki.

Pengucapan yang cukup keras dengan logat Jawa yang _medok_ tak urung membuat mbah kung yang duduk disebelahnya tersenyum. Beberapa jamaah bahkan tertawa tertahan sambil meneruskan bacaan. 

Sepintas dari cerita mbah kung, bacaan beliau memang lebih terdengar sebagai "alat zina". Membuat kami yang mendengar ceritanya jadi ikut tersenyum. Gak kebayang kalau itu terjadi saat ini. Sepertinya bakal viral. 

Alih-alih memviralkan, mbah Kung justru menunggu saat berdua untuk memberikan koreksi. Untuk menjaga martabat beliau yang memang pejabat setempat. 

"Alhamdulillah, orangnya mau dinasehati dan mau belajar. Sekarang sudah lancar baca Al-Qur'an". Begitulah mbah kung menutup ceritanya. 

Tidak mudah memang orang jaman dulu belajar membaca Al-Qur'an. Lebih butuh usaha dan waktu. Berbeda dengan generasi sekarang yang hampir semuanya dapat membaca Al-Qur'an sejak kecil. Belajarnya pun dalam waktu singkat berkat inovasi metodologi pembelajaran. Inovasi cara mudah dan cepat membaca Al-Qur'an. Hampir semua sudah lancar membaca Al-Qur'an sebelum lulus SD. 

Kini, perkembangan inovasi pembelajaran itu bukan saja bagaimana cara membacanya. Ada juga inovasi menghapal Al-Qur'an. Maka bermunculan beberapa istilah, misalnya "Menghapal Al-Qur'an Semudah Tersenyum", "Hapal Al-Qur'an dalam 8 jam", dan sebagainya. Intinya, semua menawarkan metologi yang memudahkan mampu menghapal Al-Qur'an dalam waktu yang lebih cepat. 

Bahkan, alhamdulillah belakangan juga berkembang inovasi metode cepat memahami Al-Qur'an. Metode bagaimana cara memahami bahasa Arab secara mudah dan cepat sehingga membantu untuk mengartikan kata dan memahami makna ayat Al-Qur'an. Ada yang memperkenalkan istilah "Sekejap Faham Al-Qur'an", "60 Hari Bisa Menerjemahkan Al-Qur'an", dan lain sebagainya. 

Lebih bersyukur lagi, inovasi-inovasi pembelajaran itu bukan hanya ditujukan untuk anak-anak. Memungkinkan juga dipelajari oleh orang yang lebih tua. Hasilnya bisa jadi memang tidak dapat mencapai 100%. Barangkali karena kesibukan atau faktor usia yang menyebabkan penurunan daya serap dan daya ingat. 

Akan tetapi, seperti yang dipesankan mbah kung lewat ceritanya, tidak ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur'an. Berapapun usia kita, apapun status sosial kita tidak perlu menjadi penghalang untuk terus belajar Al-Qur'an. 

Tidak ada alasan untuk tidak belajar membacanya dengan benar. Tidak bakal terlambat untuk mulai bersungguh-sungguh menghapalnya seberapun nanti yang didapat. Tidak  perlu menunda belajar bahasa Arab, berusaha lebih mengerti arti untuk memahami maknanya. InsyaAllah akan lebih mendorong semangat untuk mengamalkan Al-Qur'an. Menjadikan Al-Qur'an sebagaimana diturunkan Allah SWT, sebagai "hudal linnaasi wabayyinaatim minal hudaa wal furqaan".

Bukankan Allah SWT telah memudahkan Al-Qur'an untuk dijadikan pelajaran dan untuk diingat?

“Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

Depok, 17 Ramadhan 1443 H
Read More

Selamat Jalan Ris... (Mengantar Orang Baik Menghadap Dzat yang Maha Baik)

Leave a Comment

Pagi itu, 2 Januari 2021 matahari baru sepenggalah naik ketika sebuah panggilan masuk ke HP. Nama yang sudah sangat kukenal. Tidak ada alasan untuk tidak segera mengangkatnya. Tapi pagi itu beda. Aku sejenak tergugu. Sebelum akhirnya menerima panggilan telepon itu. 

"In, aku udah di depan rumahmu. Bukain pagar". 

Tanpa basa-basi. Bahkan sebelum aku menjawab salamnya. 

Seperti beberapa kali sebelumnya dolan ke rumah, tentu dengan senang hati aku akan menyambutnya. Tapi kembali aku tergugu. Menimbang jawaban apa yang akan kuberikan. Pagi itu memang beda. Beberapa saat aku hanya diam setelah menjawab salam. 

" Ris, aku lagi gak bisa ketemu".

Hanya itu yang kemudian kuucapkan. Jawaban pendek yang sebenarnya berat kusampaikan karena bermakna menolak silaturahminya. Sekaligus untuk memberi gambaran kondisi yang sedang kualami. Sebuah jawaban pendek yang segera dapat dipahami pada masa pandemi. Ya, saat itu aku sedang isolasi mandiri. Semalam memang terkonfirmasi hasil swab PCR positif terpapar covid-19. 

Awalnya aku memang tidak berencana mengabarkan kondisi terpapar covid-19 ini kecuali kepada keluarga dan tetangga. Tetapi seakan dia tahu dan tiba-tiba saja sudah nongol di depan rumah. Termasuk menjadi yang awal mendapat kabar.

Segera untaian doa dan kalimat penguat meluncur dari seberang telepon. Aku semakin merasa bersalah ketika kutahu dia sengaja nggowes dari rumahnya di Jatibening, Bekasi ke rumahku di Maharaja, Depok. Sekitar 30 km dan tidak bisa bertemu. 

"Rapopo, yang penting kamu segera sembuh". 

Begitu jawabannya setiap kali merespon permohonan maafku. Tidak ada keluhan sama sekali. Tidak terdengar sesal. Tidak pula menganggapnya sebagai perjalanan yang sia-sia.  

Ya. Memang begitulah Aris Munandar. Seorang ahli silaturahmi. Teman-teman yang mengenalnya pasti tahu kebiasaan ini. Ringan kaki bertemu teman. Bahkan kadang tanpa memberi kabar dulu. Biar jadi surprise. Begitu alasannya. 

Aku sendiri dengan Aris sudah seperti saudara. Kenal sudah lebih dari 30 tahun, sejak kami sama-sama di SMP Al Islam Solo. Bahkan sama-sama nyantri di Jamsaren. Hampir 24 jam kami beraktifitas bersama. Kebersamaan yang melampaui sekadar pertemanan biasa. 

Setelah lulus SMP memang sempat putus kontak. Aris melanjutkan SMA di Bandung, ikut kakaknya yang tinggal di sana. Sampai kemudian hari itu ketika registrasi mahasiswa baru UGM kami kembali ketemu. Tanpa sengaja. Seakan perjumpaan yang sudah diatur. Sekejap kami sudah saling mengenal. Lebih dari 3 tahun tanpa kabar tidak membuat kami lupa satu sama lain. Meskipun berbeda jurusan kami satu fakultas. Sama-sama masuk FE UGM. 

Suasana kebersamaan seperti ketika di  Jamsaren terulang manakala kami tinggal di rumah yang sama. Kami memang sama-sama aktif di HMI Komisariat FE UGM. Beberapa tahun kami tinggal bersama di sekretariat. Bahkan setelah tidak tinggal di sekretariat tidak menjadi penghalang bagi seorang Aris untuk sering berlama-lama di sekretariat. Bahkan menginap. Untuk menyiapkan suatu kegiatan. Atau hanya untuk ngehik dan ngobrol sampai pagi. Lagi-lagi kebersamaan yang melampaui sekadar pertemanan biasa. 

Setelah lulus dan berkeluarga, kami masih sering ketemu. Bukan hanya di acara bersama seperti reuni. Juga ketemuan terbatas beberapa kawan saja. Bahkan kami saling mengunjungi. Bukan lagi silaturahmi teman tapi antar keluarga. Meskipun tetap saja frekuensi kunjungan Aris ke rumahku lebih banyak. 

Beberapa hari lalu gantian Aris yang terpapar covid-19. Setelah sekitar seminggu dirawat di RS karena tipes, tes swab PCR hasilnya positif covid-19. Istri dan anaknya lebih dahulu isolasi di rumah. Lebih dulu terpapar covid-19 meskipun tanpa gejala yang mengkhawatirkan. Tentu bukan keadaan yang mudah bagi keluarga Aris. 

Beberapa kali kami masih video call untuk memberikan dukungan. Aris mengeluh napasnya ngos-ngosan. Pengukuran saturasi oksigen turun jadi 84%. Dan perlu penanganan di RS dengan fasilitas perawatan covid-19 yang lebih memadai. 

Tidak mudah memang mencari RS rujukan di saat kasus covid-19 di Jabodetabek melonjak drastis. Syukurlah salah satu sahabat kami turun tangan memberikan bantuan. Seorang yang konsisten untuk turun tangan bukan hanya urun angan. Minggu malam, 20 Juni 2021 dapat dirawat di ruang ICU RSUD Cengkareng, Jakarta. 

Sejatinya sejak awal kedatangan, dokter sudah menyarankan untuk dipasang ventilator. Keluarga juga sudah menyetujui sebagai upaya terbaik. Sembari menunggu hasil upaya lain dari tim medis yang sangat berdidikasi. Aku mengira dengan pertimbangan kondisinya, malam itu ventilator sudah terpasang. 

Aku kaget ketika Selasa pagi, 22 Juni 2021 Aris mengajak video call beberapa teman. Bahkan dengan teman-teman yang lebih senior. Mengabarkan kondisinya yang sudah membaik. Dan minta disampaikan terimakasih kepada semua yang sudah memberikan support

Semua teman yang dihubungi Aris menceritakan wajah Aris terlihat lebih segar dan bersemangat. Aku sendiri sangat senang. Jika tidak jadi dipasang ventilator berarti memang kondisinya membaik. Kabarnya, saturasi oksigen juga sudah naik, 86-94% bahkan 95% jika sedang dalam kondisi tenang.

Tapi malamnya, kembali mendapat kabar jika selepas maghrib ventilator sudah dipasang. Kondisinya menurun. Ada harapan dan kegelisahan karena setelahnya tidak bisa lagi berkomunikasi langsung. Sehari tanpa kabar terasa begitu lama. Kami, teman-temannya menutupi kegelisahan dengan meyakini bahwa tidak ada kabar justru berarti kondisi Aris membaik. 

Rupanya kemarin menunda sehari memasang ventilator menjadi pilihanmu agar bisa berpamitan. Menjelang siang ini, Kamis 24 Juni 2021 sebuah kabar membuatku langsung gemetar. Aku tak kuasa menahan lelehan air mata ketika menceritakan kabar duka ini ke istri. Segera terbayang, kemarin kamu tampak lebih baik karena sedang berpesan bahwa kamu baik-baik saja dan ikhlas menerima semuanya. InsyaAllah ini jadi jalan syahidmu. 

Aku sempatkan mengantar sampai pemakaman meskipun tidak bisa terlalu mendekat. Di sini, di TPU Padurenan Bekasi. Sebisanya aku ingin mengantar kamu, orang baik yang sedang menghadap Dzat yang Maha Baik. 

Selamat jalan Ris. Kamu orang baik, ahli silaturahmi, dan banyak menolong teman. InsyaAllah kebaikanmu akan terus mengalirkan pahala. Melapangkan kuburmu, menerangi kuburmu, dan menjadikannya sebagai bagian dari taman surga. 

Read More

Mengunjungi Beranda Depan Indonesia di Pos Lintas Batas Motaain, Kabupaten Belu

Leave a Comment


Jangan remehkan pintu penghubung dua negara yang bertetangga. Wilayah perbatasan adalah wajah terluar yang langsung dilihat oleh negara tetangga. Belum lagi jika dinilai dari kepentingan strategisnya sebagai benteng terluar untuk menjaga kedaulatan wilayah.

Sejatinya, menempatkan wilayah perbatasan sebagai beranda depan bukan hanya tentang posisi strategisnya semata. Ini memang sebuah keharusan. Lebih dari itu di sanalah pesona keindahan alam yang luar biasa justru banyak ditemukan. Di sisi lain, secara sosial ekonomi biasanya masih merupakan wilayah tertinggal. Sudah sepantasnyalah jika perhatian diberikan kepada area perbatasan.

Kabupaten Belu menjadi kabupaten terluar usai wilayah di ujung Pulau Timor memisahkan diri menjadi Negara Timor Leste. Adalah referendum yang digelar pada 30 Agustus 1999 sebagai penanda keputusan warga negara telah diambil. Meskipun pahit, kenyataan itu sudah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia. 

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain di Kecamatan Tafeso Barat, Kabupaten Belu merupakan salah satu pintu penghubung wilayah Indonesia dan Timor Leste. Sempatkan untuk mengunjungi beranda depan Indonesia itu jika sedang berada di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Meskipun tidak ada rencana kegiatan di negara tetangga, tidak ada salahnya untuk sejenak melintas masuk ke wilayah yang dahulu merupakan salah satu provinsi di Indonesia itu. 

Pos lintas batas berjarak sekitar 30 km dari Kota Atambua sebagai ibukota Kabupaten Belu. Ada dua pilihan akses. Bisa melintasi perbukitan atau menyusuri pantai. Pilihan lewat perbukitan merupakan jalur Bandara AA Bere Tallo. Pilihan kedua lewat jl. Nasional Trans Timor memiliki jarak tempuh yang sedikit lebih jauh. Meskipun demikian, keduanya menawarkan kualitas jalan yang cukup baik. Keduanya juga menawarkan pemandangan indah yang tak membosankan selama perjalanan. 

Lokasi PLBN Motaain yang berada di wilayah pesisir menjanjikan keindahan alami. Tak jauh dari pos lintas batas itu, sebuah pantai berpasir putih dapat menjadi pilihan bersantai sejenak. Letaknya di tepi jalan nasional ketika memilih jalur menyusuri pantai dari Kota Atambua. Jika memilih lewat perbukitan atau berangkat dari bandara, sebelum sampai di pos lintas batas bisa belok sebentar ke pantai berpasir putih yang sangat dikenal masyarakat Kabupaten Belu. 

Masyarakat biasanya menyebut sebagai pantai Atapupu. Sungguh indah panorama yang ditawarkan. Pasir putihnya luas terbentang. Ombaknya lembut mengusap bibir pantai. Hutan bakaunya asri menghijau. Hilang sudah semua penat ketika bersantai di Pantai Atapupu. 

Puas menikmati keindahan Pantai Atapupu, saatnya melanjutkan perjalanan ke pos lintas batas. Dekat saja. Hanya sekitar 5 km lewat Jl. Nasional Trans Timor langsung sampai di salah satu beranda depan wilayah NKRI. Inilah PLBN Motaain yang tampak megah.

Arsitektur bangunan PLBN Motaain bukan hanya tampak megah, tetapi juga kaya nuansa lokal. Gerbang dan bangunannya mengadopsi arsitektur rumah adat masyarakat Belu. Atap bangunannya menjulang sebagaimana rumah adat NTT. Ornamen beberapa bangunan pun terinspirasi dari corak tenun setempat. Sangat layak menjadi kebanggaan masyarakat Belu dan setiap warga yang melintas pos lintas batas. 

Setelah memasuki gerbang yang sekaligus berfungsi sebagai pos penjagaan, tampak jika kawasan pos lintas batas ini cukup luas. Terlebih lagi penataaan kawasannya yang didominasi ruang terbuka dengan taman-taman yang terawat semakin memberi kesan luas dan asri. 

Gedung utama berupa bangunan 2 lantai yang tetap bercirikan rumah adat NTT. Dipergunakan sebagai fasilitas keimigrasian, bea cukai, dan sarana penunjang lainnya. Selain jalur untuk kendaraan, di sepanjang jalan menuju batas negara juga tersedia pedestrian bagi pejalan kaki. 

Bagi yang hanya akan berkunjung sejenak melintas perbatasan, bisa dengan melapor kepada petugas. Cukup menyampaikan maksud dan diminta meninggalkan KTP. Petugas akan memberikan tanda pengenal sebagai "TAMU". Karena tidak diperkenankan membawa kendaraan, pilihannya adalah menyusuri jalur pedestrian sampai pos perbatasan Timor Leste. Jarak pos perbatasan kedua negara sepertinya hampir 500 m. Masih terjangkau untuk ditempuh dengan jalan kaki.  


Kedua negara dipisahkan oleh jembatan yang di bawahnya mengalir sungai menuju laut. Pendek saja jarak jembatan sampai muara karena letaknya yang di pesisir. Bangunan ikonik yang menandai perbatasan itu berupa sebuah jembatan dengan bentuk rangka besi melengkung dan dicat  warna perak. Sebuah tulisan berukuran cukup besar terpampang di jembatan itu sebagai ucapan selamat datang: "Bem Vindo A - Welcome to Timor Leste". 


Tidak begitu jauh dari ujung jembatan, terlihat pos lintas batas Negara Timor Leste. Tak perlu ragu untuk singgah barang sejenak, masuk ke wilayah negara tetangga itu. Para penjaga di wilayah Timor Leste biasanya masih bisa diajak ngobrol menggunakan Bahasa Indonesia. Ya, karena awalnya negara tetangga ini memang satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa sebagai Provinsi Timor Timur.


Renungkanlah betapa ketidakadilan politik, ekonomi, dan sosial merupakan ancaman nyata terhadap keutuhan NKRI.

#IngatanPerjalanan 05032018

Read More