Maaf, Saya Sering Masbuk dan Mabuk
Dua Rasa di Ujung Ramadhan
Masjid kami mulai berkurang jamaahnya. Sebagian sudah berangkat mudik. Menandai Ramadhan yang hampir selesai. Kali ini saya ingin jujur pada diri sendiri. Ada dua rasa yang saling berkejaran di dada. Syukur yang meluap, namun juga sesal yang diam-diam mengiris.
Saya bersyukur karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ada yang tahun lalu masih merencanakan Ramadhan berikutnya, tapi tahun ini tidak pernah benar-benar sampai. Dan saya masih ada di sini.
Saya bersyukur karena Sang Pemilik Waktu masih mengizinkan sampai di titik ini. Di saat banyak nama hanya tinggal kenangan, saya masih bisa menjalani hari-hari di bulan Ramadhan. Masih bisa berdiri dalam shaf shalat berjamaah. Masih bisa tilawah ayat-ayat-Nya meski tidak selalu dengan hati yang utuh. Masih bisa bermunajat di malam yang sunyi, dan beriktikaf menggapai Lailatul Qadar.
Saya bersyukur karena tahun ini tidak hanya menjadi penonton, tapi menjadi bagian dari kemuliaan bulan ini.
Namun, di balik syukur itu ada sesal yang menyesak. Menyesal karena tidak menyambut semua kesempatan dengan kesungguhan. Menyesal karena tahu, seharusnya bisa melakukan lebih dari ini. Bisa lebih hadir. Bisa lebih sadar. Bisa lebih menghargai waktu yang diam-diam terus berjalan.
Saya menyesal karena seringkali melewatkan waktu-waktu mustajab dengan kesadaran yang setengah hati. Ibadah terkadang menjelma rutinitas yang kering. Seolah-olah shalat dan puasa hanyalah gugur kewajiban tanpa benar-benar menghidupkan batin.
Saya bersyukur karena masih ada malam-malam yang saya sempatkan untuk taqarrub. Tapi menyesal karena ada banyak malam yang dilewatkan dengan alasan lelah dan kantuk. Atau menuruti bisikan ntar aja dengan keyakinan bahwa waktu masih panjang. Padahal detik-detik Ramadhan terus luruh seperti pasir di jam kaca.
Saya bersyukur karena Ramadhan selalu datang membawa kesempatan baru. Tapi menyesal karena sering datang sebagai orang yang sama dengan tahun sebelumnya. Dengan pola yang sama. Dengan kelalaian yang hampir serupa. Dengan kemalasan yang itu-itu saja.
Saya bersyukur karena masih diberi ruang untuk memperbaiki diri. Tapi menyesal karena seringkali menunda perbaikan itu, seolah-olah kesempatan akan selalu menunggu. Padahal tidak. Dan mungkin, di situlah letak pelajaran yang paling sunyi tapi paling jujur. Bahwa yang pergi bukan hanya Ramadhan, tapi umur yang tidak akan pernah kembali.
Dan kini, semakin memikirkannya, semakin merasa bahwa mungkin yang saya alami bukan kekurangan waktu, melainkan kekurangan kesadaran.
Di batas penghujung waktu ini, hanya bisa berharap bahwa apa pun yang sempat saya lakukan, meski sedikit dan tidak sempurna, tidak sepenuhnya sia-sia. Berharap bahwa di antara amal-amal yang terasa biasa, ada yang benar-benar diterima.
Maka di penghujung Ramadhan ini, saya tidak ingin menjadi siapa-siapa selain seseorang yang sedang belajar jujur. Saya bersyukur dan saya menyesal.
Ya Allah, terimalah semua yang sempat saya lakukan. Meski tidak banyak, meski tidak sempurna. Dan jika Engkau masih berkenan, izinkan bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya. Bukan sekadar mengulang. Tapi datang sebagai diri yang lebih siap. Hati yang lebih sadar, dan tidak lagi menyia-nyiakan waktu seperti sebelumnya.
Depok, 29 Ramadhan 1447 H
Indonesia dalam Angka Perjalanan
Ingatan Perjalanan di Kota Jayapura: MASJID-MASJID DI UJUNG TIMUR INDONESIA
Hijrah Bukan Hanya Soal Pindah, Tapi Juga Tentang Menata Arah
Ramadhan, Mengapa Engkau Datang dan Pergi Tanpa Menyapa Aku?
Gema takbir mulai berkumandang, bersahutan dari masjid-masjid di seputaran rumah, menandakan berakhirnya bulan yang penuh berkah ini. Besok, hari raya Idul Fitri akan tiba. Inilah waktu berbuka puasa terakhir. Tapi aku malah ditemani kegelisahan yang menyusup ke dalam hati.
Sambil menyelesaikan hidangan takjil, aku duduk menatap ponsel yang memperlihatkan kalender digital, dengan tatapan masygul. Esok pagi, harusnya menjadi hari kemenangan. Tapi di dalam hati, yang ada hanya sesak dan penyesalan.
Sejak awal Ramadhan, aku berjanji pada diri sendiri akan lebih mendekat kepada Allah. Sederet daftar amal untuk mengisi bulan Ramadhan telah rapi aku targetkan. Ingin menambah bacaan Al-Qur’an, ingin merutinkan shalat malam, ingin lebih banyak sedekah, ingin lebih sering memohon ampunan, ingin berdoa lebih khusyuk, dan ingin setiap waktu mengisi dengan amal ibadah mumpung bulan ini nilai pahala dilipatgandakan.
Namun, hari demi hari berlalu dengan begitu cepat. Aku santai saja ketika daftar amal itu hanya berakhir dengan keinginan tanpa tindakan. Aku selalu merasa masih punya waktu.
“Besok aku akan mulai,” kataku setiap malam.
Tapi besok selalu saja menjadi lusa, dan lusa bergeser menjadi pekan lalu. Hingga tanpa sadar, inilah buka puasa Ramadhan terakhir tahun ini.
Malam ini, aku hanya bisa menghela napas panjang, menunduk dengan tangan menggenggam erat tasbih yang tak banyak kugunakan selama sebulan ini. Kulirik Al-Qur’an di atas meja yang lebih banyak tergeletak daripada berada dipangkuan untuk kubaca.
Dulu, aku berpikir Ramadhan ini akan berbeda. Aku berjanji akan beribadah lebih sungguh-sungguh. Namun, aku justru lebih banyak menghabiskan banyak waktu dengan hal-hal yang tak perlu.
Aku terlalu sibuk. Scroll media sosial hingga menjelang tidur, menonton serial film dan drama yang tak ada habis-habisnya, sesekali pergi berbuka di luar bareng teman biar bisa berswafoto dan mengunggahnya, menonton podcast yang lebih banyak bercanda tanpa makna, dan membaca cerita-cerita novel yang sebenarnya memiliki alur yang monoton, jauh dari keindahan dan kedalaman makna dibanding kisah-kisah dalam Al-Qur’an.
Malam ini, aku sadar. Semua itu telah berlalu, dan aku tak bisa mengulanginya. Dada ini terasa semakin sesak. Aku teringat almarhum ayah yang dulu selalu mengingatkan untuk memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.
“Doa di bulan ini mustajab, Nak. Jangan sampai kamu menyesal karena menunda-nunda,” katanya suatu saat sambil makan sahur. Tapi aku hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengarkan.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Aku merasa begitu bodoh. Allah telah memberikan sebulan penuh kesempatan, tapi aku justru menyia-nyiakannya. Hingga waktu berbuka puasa Ramadhan terakhir ini, aku belum juga merasakan keindahan qiyamul lail dan kenikmatan membaca Al-Qur'an yang selama ini kuimpikan.
Ramadhan, mengapa engkau datang dan pergi tanpa menyapaku? Tapi rasa kecewa itu segera berganti dengan rasa sesal. Aku sadar, bukan Ramadhan yang tidak menyapa, tapi aku yang justru mengabaikannya.
Tanpa berpikir panjang, Aku bangkit dari tempat duduk, berwudhu hingga air yang membasuh wajah bercampur dengan air mata yang terus menetes. Sesaat setelah menenangkan hati, kulangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan Shalat Maghrib berjamaah. Malam ini, aku tak ingin menunda lagi.
Dengan suara lirih, aku mulai berdoa.
“Ya Allah, ampuni hamba yang telah menyia-nyiakan waktu-Mu. Hamba mohon, beri kekuatan untuk bersegera menunaikan amal-amal yang kemarin tertunda dan izinkan hamba kembali bertemu dengan Ramadhan-Mu di tahun depan. Jangan biarkan hamba mengulang kesalahan ini lagi.”
Doa penuh penyesalan itu akhirnya terucap. Tapi di dasar hati, aku tahu, tidak ada yang bisa menjamin apakah masih akan mendapatkan kesempatan kedua, disapa oleh Ramadhan tahun depan.
Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu Allaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.
Depok, 1 Syawal 1446 H
Saya Iri di Bulan Ramadhan Ini
Di masjid kami, Pak Catur bukan siapa-siapa. Maksudnya, dia hanya jamaah biasa. Meskipun cukup rajin shalat berjamaah, belum pernah sekalipun, atau setidaknya sangat jarang, dia menjadi imam shalat. Masjid kami memang memiliki imam tetap, namun ketika beliau sedang ada udzur, tentu salah satu dari kami harus menjadi imam pengganti.
Featured Posts
Label
- Solok Selatan
- Wisata Bali
- Wisata Bangka Belitong
- Wisata Gorontalo
- Wisata Jambi
- Wisata Jawa Barat
- Wisata Jawa Tengah
- Wisata Jawa Timur
- Wisata Kalimantan Barat
- Wisata Kalimantan Tengah
- Wisata Maluku Utara
- Wisata Nanggro Aceh Darussalam
- Wisata Nusa Tenggara Barat
- Wisata Nusa Tenggara Timur
- Wisata Sulawesi Barat
- Wisata Sulawesi Tenggara
- wisata Sulawesi Utara
- Wisata Sumatera Barat
- Wisata Sumatera Utara
- Wisata Yogyakarta
