Mengunjungi Beranda Depan Indonesia di Pos Lintas Batas Motaain, Kabupaten Belu

Leave a Comment


Jangan remehkan pintu penghubung dua negara yang bertetangga. Wilayah perbatasan adalah wajah terluar yang langsung dilihat oleh negara tetangga. Belum lagi jika dinilai dari kepentingan strategisnya sebagai benteng terluar untuk menjaga kedaulatan wilayah.

Sejatinya, menempatkan wilayah perbatasan sebagai beranda depan bukan hanya tentang posisi strategisnya semata. Ini memang sebuah keharusan. Lebih dari itu di sanalah pesona keindahan alam yang luar biasa justru banyak ditemukan. Di sisi lain, secara sosial ekonomi biasanya masih merupakan wilayah tertinggal. Sudah sepantasnyalah jika perhatian diberikan kepada area perbatasan.

Kabupaten Belu menjadi kabupaten terluar usai wilayah di ujung Pulau Timor memisahkan diri menjadi Negara Timor Leste. Adalah referendum yang digelar pada 30 Agustus 1999 sebagai penanda keputusan warga negara telah diambil. Meskipun pahit, kenyataan itu sudah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia. 

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain di Kecamatan Tafeso Barat, Kabupaten Belu merupakan salah satu pintu penghubung wilayah Indonesia dan Timor Leste. Sempatkan untuk mengunjungi beranda depan Indonesia itu jika sedang berada di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Meskipun tidak ada rencana kegiatan di negara tetangga, tidak ada salahnya untuk sejenak melintas masuk ke wilayah yang dahulu merupakan salah satu provinsi di Indonesia itu. 

Pos lintas batas berjarak sekitar 30 km dari Kota Atambua sebagai ibukota Kabupaten Belu. Ada dua pilihan akses. Bisa melintasi perbukitan atau menyusuri pantai. Pilihan lewat perbukitan merupakan jalur Bandara AA Bere Tallo. Pilihan kedua lewat jl. Nasional Trans Timor memiliki jarak tempuh yang sedikit lebih jauh. Meskipun demikian, keduanya menawarkan kualitas jalan yang cukup baik. Keduanya juga menawarkan pemandangan indah yang tak membosankan selama perjalanan. 

Lokasi PLBN Motaain yang berada di wilayah pesisir menjanjikan keindahan alami. Tak jauh dari pos lintas batas itu, sebuah pantai berpasir putih dapat menjadi pilihan bersantai sejenak. Letaknya di tepi jalan nasional ketika memilih jalur menyusuri pantai dari Kota Atambua. Jika memilih lewat perbukitan atau berangkat dari bandara, sebelum sampai di pos lintas batas bisa belok sebentar ke pantai berpasir putih yang sangat dikenal masyarakat Kabupaten Belu. 

Masyarakat biasanya menyebut sebagai pantai Atapupu. Sungguh indah panorama yang ditawarkan. Pasir putihnya luas terbentang. Ombaknya lembut mengusap bibir pantai. Hutan bakaunya asri menghijau. Hilang sudah semua penat ketika bersantai di Pantai Atapupu. 

Puas menikmati keindahan Pantai Atapupu, saatnya melanjutkan perjalanan ke pos lintas batas. Dekat saja. Hanya sekitar 5 km lewat Jl. Nasional Trans Timor langsung sampai di salah satu beranda depan wilayah NKRI. Inilah PLBN Motaain yang tampak megah.

Arsitektur bangunan PLBN Motaain bukan hanya tampak megah, tetapi juga kaya nuansa lokal. Gerbang dan bangunannya mengadopsi arsitektur rumah adat masyarakat Belu. Atap bangunannya menjulang sebagaimana rumah adat NTT. Ornamen beberapa bangunan pun terinspirasi dari corak tenun setempat. Sangat layak menjadi kebanggaan masyarakat Belu dan setiap warga yang melintas pos lintas batas. 

Setelah memasuki gerbang yang sekaligus berfungsi sebagai pos penjagaan, tampak jika kawasan pos lintas batas ini cukup luas. Terlebih lagi penataaan kawasannya yang didominasi ruang terbuka dengan taman-taman yang terawat semakin memberi kesan luas dan asri. 

Gedung utama berupa bangunan 2 lantai yang tetap bercirikan rumah adat NTT. Dipergunakan sebagai fasilitas keimigrasian, bea cukai, dan sarana penunjang lainnya. Selain jalur untuk kendaraan, di sepanjang jalan menuju batas negara juga tersedia pedestrian bagi pejalan kaki. 

Bagi yang hanya akan berkunjung sejenak melintas perbatasan, bisa dengan melapor kepada petugas. Cukup menyampaikan maksud dan diminta meninggalkan KTP. Petugas akan memberikan tanda pengenal sebagai "TAMU". Karena tidak diperkenankan membawa kendaraan, pilihannya adalah menyusuri jalur pedestrian sampai pos perbatasan Timor Leste. Jarak pos perbatasan kedua negara sepertinya hampir 500 m. Masih terjangkau untuk ditempuh dengan jalan kaki.  


Kedua negara dipisahkan oleh jembatan yang di bawahnya mengalir sungai menuju laut. Pendek saja jarak jembatan sampai muara karena letaknya yang di pesisir. Bangunan ikonik yang menandai perbatasan itu berupa sebuah jembatan dengan bentuk rangka besi melengkung dan dicat  warna perak. Sebuah tulisan berukuran cukup besar terpampang di jembatan itu sebagai ucapan selamat datang: "Bem Vindo A - Welcome to Timor Leste". 


Tidak begitu jauh dari ujung jembatan, terlihat pos lintas batas Negara Timor Leste. Tak perlu ragu untuk singgah barang sejenak, masuk ke wilayah negara tetangga itu. Para penjaga di wilayah Timor Leste biasanya masih bisa diajak ngobrol menggunakan Bahasa Indonesia. Ya, karena awalnya negara tetangga ini memang satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa sebagai Provinsi Timor Timur.


Renungkanlah betapa ketidakadilan politik, ekonomi, dan sosial merupakan ancaman nyata terhadap keutuhan NKRI.

#IngatanPerjalanan 05032018

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment